Harimau Jawa dan Orang Kerdil dari Meru Betiri?

Radar Jember /Jawa Pos- 4 Mei 2003

Oleh : Adi Mustika

Pertama kali penulis menginjakkan kaki di Taman Nasional Meru Betiri (TNMB) adalah pada tahun 1994. Ketika itu bersama dengan teman-teman Matalabiogama UGM kami menuju ke Bandealit dengan maksud mendirikan   semacam tugu peringatan di lokasi meninggalnya 2 orang kakak senior kami dalam kecelakaan di pantai pada saat sedang mengadakan ekspedisi tahun 1984.

Mengagumkan, itulah kesan pertama yang tertangkap mengenai TNMB. Mengagumkan karena TNMB merupakan sedikit dari sisa-sisa hutan belantara yang masih ada di pulau Jawa. Dan kondisinya pada saat itu bisa dikatakan masih sangat bagus. Pada kunjungan tahun 1994 itu penulis untuk pertama kali mendengar cerita tentang Harimau Jawa dan ‘orang kerdil’ di TNMB. Dalam tulisan ini penulis ingin sedikit urun rembug mengenai kedua hal itu yang masih menjadi kontroversi.

Harimau Jawa adalah salah satu dari tiga spesies harimau yang ada di Indonesia, yaitu Harimau Sumatera, Harimau Jawa dan Harimau Bali. Harimau Jawa sudah dinyatakan punah mengikuti Harimau Bali yang sudah punah lebih dahulu. Di TNMB itulah pada tahun 1925 merupakan kali terakhir dilaporkan perjumpaan manusia dengan Harimau Jawa. Itulah yang diyakini sebagai sang raja rimba terakhir dari Jawa, yang bertekuk lutut dihadapan sang pemburu. Sejak saat itu tidak ada lagi laporan yang bisa dikonfirmasikan mengenai perjumpaan dengan Harimau Jawa, dan kemudian dinyatakan punah. Meski belakangan masih ada beberapa laporan dari masyarakat mengenai perjumpaan dengan Harimau Jawa, tidak hanya di TNMB tetapi juga di Jawa Tengah dan Daerah Istimewa Jogjakarta, umumnya mereka begitu yakin yang dilihatnya adalah harimau loreng, bukan macan tutul.

Pada tahun 1997 teman-teman pecinta alam dari berbagai kelompok bersama-sama dengan pihak TNMB mengadakan ekspedisi mencari Harimau Jawa di dalam kawasan TNMB. Dari ekspedisi itu terkumpul data yang diduga merupakan tanda-tanda keberadaan Harimau Jawa, seperti kotoran, tapak kaki di tanah, bekas cakaran di pohon, dan rambut yang lepas.   Kemudian dilanjutkan dengan seminar yang diadakan di Surabaya dan di Jogjakarta. Pada seminar di Jogjakarta tahun 1998 yang menghadirkan pembicara antara lain pakar harimau dari Amerika Dr.Ronald Tilson, pakar harimau dari Sumatran Tiger Project, dan Sekjen Departemen Kehutanan, terlontar beberapa hal yang memang masih menjadi pertanyaan besar, seperti misalnya tentang habitat yang makin lama makin berkurang. Bagaimana dengan carrying capacity kawasan TNMB,   apakah di habitat itu memang masih tersedia pakan yang mencukupi? Di pulau Jawa selain ada Harimau Jawa juga ada macan tutul, kemudian apakah data tentang kotoran, rambut, jejak kaki, dan cerita masyarakat yang melihat Harimau Jawa itu tidak keliru dengan macan tutul?

Dari seminar itu kemudian direkomendasikan untuk melanjutkan pencarian bukti keberadaan Harimau Jawa. Kemudian dipasanglah kamera di beberapa lokasi di TNMB yang diperkirakan merupakan tempat yang dilalui Harimau Jawa. Tetapi menurut informasi, sayangnya tak satupun kamera-kamera mahal yang terpasang itu yang berhasil mendapatkan gambar Harimau Jawa. Dengan begitu rupanya teman-teman yang berpendapat bahwa Harimau Jawa masih ada di TNMB harus bekerja lebih keras lagi untuk membuktikan bahwa pendapat Dr Ronald Tilson dalam makalahnya yang mengungkapkan: “The tiger may die, but the stripe is remain”   belum berlaku untuk spesies Harimau Jawa.

Selain cerita Harimau Jawa yang masih kontroversial,   di TNMB juga ada   cerita yang masih lamat-lamat tetapi santer terdengar yaitu adanya ‘orang kerdil’ yang disebut Siwil atau Owil. Kabarnya makhluk ini ujudnya seperti manusia hanya saja ukuran tubuhnya lebih kecil yang tingginya kurang dari 1 meter, dan telanjang. Seorang rekan, Didik Raharyono, pernah menunjukkan gambar skets makhluk yang disebut Siwil itu. Gambar itu ia buat berdasarkan keterangan ciri-ciri yang disebutkan oleh Pak Ti, begitu ia biasa dipanggil, seorang warga yang tinggal tidak jauh dari hutan Meru Betiri dan mengenal seluk-beluknya dan pernah berjumpa dengan ‘orang kerdil’. Menurut Pak Ti seperti itulah ujud ‘orang kerdil’ yang pernah ia lihat.

Aktivitas makhluk-makhluk yang disebut Owil atau Siwil yang pernah terlihat ialah mencari udang atau ikan di sungai. Saat mencari udang itu mereka kadang terdengar riuh, dan dari dekat suaranya terdengar seperti bunyi “kweeeee…k, kweee…k” panjang. Tetapi jika tepergok manusia mereka akan segera lari menghilang diantara rimbunnya hutan dan belum pernah ada orang yang mengetahui di mana mereka bersarang. Jejak kakinya pun tidak diketahui sehingga tidak bisa diikuti ke mana mereka pergi. ‘Orang kerdil’ ini rupanya telah membuat penasaran Pak Ir.Siswoyo, Kepala TNMB yang bertekad akan mencarinya.

Di Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) yang berada di perbatasan propinsi Jambi, Bengkulu dan Sumatera Barat penulis juga mendengar tentang keberadaan ‘orang kerdil’ yang di sana disebut orang pendek.   Makhluk pendek itu berjalan tegak seperti manusia dengan ukuran badan kurang dari 1 meter tingginya, tetapi memiliki jejak kaki yang arahnya terbalik, jadi seolah-olah seperti berjalan mundur. Konon pula ada seorang peneliti bule yang pernah memotret orang pendek itu, tetapi ketika dicetak tidak ada gambar orang pendek.

Meski sama-sama misterius, tetapi dari diskusi dengan staf TNKS maupun peneliti yang pernah melakukan penelitian di sana, diduga orang pendek di TNKS itu adalah sejenis primata (sebangsa kera) yang kadang-kadang menggunakan kedua tangannya untuk membantu berjalan dengan posisi punggung tangan menyentuh tanah. Itulah penjelasan yang bisa masuk akal untuk menjelaskan perihal jejak kaki yang arahnya terbalik. Lalu bagaimana dengan Siwil atau Owil di TNMB yang tidak diketahui jejak kakinya?

Makhluk apakah ‘orang kerdil’ di TNMB yang misterius itu? Mendengar kata ‘orang kerdil’, mungkin kita akan membayangkan bahwa ada manusia kerdil yang hidup di hutan. Mungkinkah ‘orang kerdil’ itu adalah manusia beneran? Sepanjang yang kita ketahui hampir seluruh bagian pulau Jawa pernah dirambah orang, tidak ada lagi suku-suku terasing, apalagi dengan postur tubuh yang kerdil. Berbeda dengan di Papua yang masih banyak tempat-tempat terpencil sehingga tidak mengherankan ketika tahun 1990-an ditemukan suku terasing   yang tinggal di atas pohon dan yang masih kanibal.

Ketika ditanyakan kepada Pak Ti di mana bisa berjumpa dengan Siwil atau Owil, ia mengatakan bahwa untuk berjumpa dengan makhluk misterius itu memang tidak setiap orang bisa begitu saja mak bedunduk ketemu.   Untuk itu biasanya perlu menempuh laku tertentu, atau tirakat, baru kemudian orang bisa berjumpa dengan Siwil. Jika memang demikian, nampaknya keterangan   ini senada dengan pendapat Dr. Oyvind Sandbukt (pers.com.), sosiolog berkebangsaan Eropa yang fasih berbahasa Indonesia, menurutnya keberadaan Siwil atau Owil yang berbau-bau mistik itu hanyalah mitos belaka yang sulit dibuktikan secara ilmiah. Wallahu a’lam.

5 Responses to Harimau Jawa dan Orang Kerdil dari Meru Betiri?

  1. jolodong wijaya says:

    di alas purwo masih ada harimau loreng om….. ada yang melihat bertarung dengan seekor banteng dewasa tuk dimangsa..!

  2. Sebenarnya yang banyak diberitakan orang,.. tentang Orang Kerdil Memang ada.
    Tapi makhluk tersebut bukanlah Makhluk biasa. Tapi mereka itu dari jenis bangsa Siluman (Jin)
    Waktu saya masih kecil dulu (anak-anak) Sering melihat makhluk tersebut di pinggiran Sungai / rawa- rawa.
    Memang pada waktu itu Suasana Alam masih Asli, Banyak pohon -pohon, Semak- semak, dan Rerumputan Yg. sangat Rimbun.
    Biasanya mereka hidup berkelompok, dan diatas kepalanya terdapat kaya bara api, sehingga pada malam hari terlihat menyala merah kayak Pelita minyak tanah ( Orang jawa bilang Oblik )
    Mereka biasa mencari Ikan kecil / Udang di pinggiran Sungi / Rawa-rawa.
    Dan jika ada seseorang yg. mendekati dia, Maka mereka akan hilang secara Misterius… Entah Kemana. Tinggi mereka tak lebih dari 50-60 cm.
    Keberadaan Makhluk Tersebut Orang jawa menamai mereka dengan nama ” WILTUK ”
    Demikianlah kami Ceritakan kembali,.. apa yang pernah saya Jumpai waktu saya masih kecil (anak-anak) dulu.

  3. Danar G.E says:

    Jayalah rimbaku, jayalah harimau jawa. Halo liedya emaliea

  4. Danar Gunar Ekalaya says:

    Moga aja masih ada loreng di rimba jawa. Hallo lidya emaliea

  5. Hermawan Rianto says:

    Orang kerdil juga ada di kerinci dan sulawesi walaupun belum ditemukan bukti kongkrit. Sebuah ekspedisi dari inggris mencoba mencari orang kerdil kerinci di th 1999- tapi tdk menemukan. Masyarakat disekitar hutan menganggap orang kerdil bertelapak terbalik yg benar mereka berjalan mundur utk mengelabuhi ancaman.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s