Belajar dari Kepunahan Spesies di Singapura

Radar Jember/Jawa Pos, 4 Juli 2004

Penulis: Adi Mustika

Hari-hari belakangan ini kita menghadapi masalah lingkungan yang makin runyam dan memprihatinkan. Berbagai bencana alam melanda banyak daerah di negeri kita. Semua bencana itu terjadi karena kerusakan lingkungan yang sudah sangat menyedihkan. Dalam sepuluh tahun terakhir laju perusakan hutan begitu mengkhawatirkan. Pembabatan hutan terjadi di mana-mana, tak peduli itu Taman Nasional sekalipun.

Jutaan hektar hutan di berbagai kawasan lenyap.  Padahal pada tahun 1950 luas hutan di negeri kita tercatat tidak kurang dari 162 juta hektar, tetapi sekarang tinggal tersisa sekitar 98 juta hektar.  Berarti sekitar 64 juta hektar hutan lenyap dalam waktu 50 tahun. Dihitung-hitung setiap tahunnya terjadi kerusakan hutan mencapai 1,8 juta hektar, yang berarti setiap menit hutan seluas tiga lapangan sepak bola lenyap.   Meski demikian, penjarahan terus berlangsung dan tampaknya makin berani terang-terangan.

Tahun 2003 pemerintah memberi jatah kepada pengusaha HPH memproduksi kayu bulat  6,8 juta meter kubik.  Sementara itu permintaan pasar kayu bulat mencapai 63 juta meter kubik. Ini berarti ada ketimpangan antara demand dan supply. Maka terjadilah pencurian kayu besar-besaran untuk menutup permintaan itu. Dan  menurut Menteri Kehutanan, seperti dikutip sebuah media, mengatakan bahwa banyak pabrik pulp dan kertas yang menampung kayu ilegal untuk bahan bakunya. Jika demikian tentu akan menjadi sangat sulit memberantas pencurian kayu karena pasarnya jelas ada dan permintaannya besar. Akibatnya pun jelas, degradasi hutan makin cepat. Padahal hutan lindung adalah “rumah” terakhir bagi aneka ragam hidupan liar yang masih tersisa sekarang.

Kerusakan lingkungan tidak hanya terjadi di darat, tetapi juga di laut.  Menangkap ikan dengan cara pemboman di daerah terumbu karang banyak terjadi. Selain itu juga dengan racun. Akibatnya, dari seluruh terumbu karang yang kita miliki, sekitar 70 persen telah rusak. Artinya, tekanan terhadap keberlangsungan hidupan liar di laut juga  sangat besar, seperti halnya dengan yang terjadi di darat.

Pengalaman Singapura

Sebuah penelitian di Singapura yang dilakukan oleh Barry W Brook dari Northern Territory University, Darwin, Australia, bersama dengan Navjot S. Sodhi dan Peter K.L. Ng dari National University of Singapore, yang hasilnya dimuat di jurnal Nature edisi 424, 24 Juli 2003,  membandingkan daftar spesies yang ada pada tahun 1870-an dengan keadaan sekarang. Hasilnya menunjukkan spesies yang telah hilang di antaranya adalah 4.866 spesies tanaman, 627 spesies kupu-kupu, 234 spesies ikan, 111 spesies reptil, dan 91 spesies mamalia. Yang berarti sekitar 73 persen flora-fauna asli daerah itu tidak ditemukan lagi saat ini.

Singapura adalah pulau kecil yang pada masa lalu pernah berupa hutan tropis. Tetapi kini lebih dari 95 persen hutan tropis Singapura seluas 540 kilometer persegi telah hilang dan digantikan hutan beton. Vegetasi tua dan asli hanya tumbuh pada kurang dari sepersepuluh hutan yang luasnya tinggal 24 kilometer persegi. Sekitar 50 persen spesies yang tersisa kini berada di wilayah reservasi yang luasnya tidak lebih dari 1.547 hektar saja. Sedangkan seperempat spesies ikan air tawar yang tersisa ditemukan hanya dalam satu penampungan seluas 5 hektar.

Nasib Flora-Fauna Indonesia

Sebagai salah satu negeri tropis dengan kekayaan sumber daya hayatinya yang begitu melimpah, para petinggi negeri kita membanggakannya sebagai the megabiodiversity country.  Tetapi dengan melihat kerusakan lingkungan yang terjadi, pembabatan hutan yang membabi buta, pencurian dan perdagangan gelap satwa liar, kita lalu bertanya, bagaimana masa depan flora-fauna negeri kita? Sekarang saja negeri kita sudah masuk dalam 10 besar negara dengan tingkat ancaman kepunahan spesies paling tinggi.

Harimau Bali sebagai salah satu dari tiga spesies harimau di Indonesia telah lama punah. Harimau Jawa yang telah dinyatakan punah pada tahun 1925, mungkin sekarang masih ada, dan jika benar masih ada jumlahnya tentu bisa dihitung dengan jari. Harimau Sumatera tampaknya juga mengalami nasib yang kurang menguntungkan, banyak diburu dan dipelihara orang, habitatnya menurun drastis. Badak Jawa tinggal tersisa di ujung kulon yang tidak seberapa luas tetapi kini juga mulai dijarah hutannya. Gajah Sumatera pun mengalami nasib yang sama, kini populasinya diperkirakan antara 2.800 – 4.800 ekor saja.  Orang utan diperkirakan akan punah dalam 20 tahun lagi. Dan masih panjang daftar spesies yang terancam punah.

Sayangnya para pengambil kebijakan di negeri kita rupanya sudah cukup puas dengan julukan the mega-biodiversity country itu. Dan karena begitu kayanya negeri kita hingga lupa bahwa kita tidak memiliki daftar seluruh spesies yang kita miliki.  Perhatian pemerintah dalam masalah seperti ini diragukan keseriusannya.

Kita mestinya bisa belajar dari pengalaman Singapura yang telah kehilangan 73 persen dari spesies yang ada di sana. “Kepunahan lokal bisa dianggap sebagai cermin dari kepunahan global. Karena bila populasi lokal dari suatu spesies punah, itu sama artinya dengan kepunahan secara global,” demikian kata Brook.

Setiap tanggal 5 Juni kita memperingati Hari Lingkungan Hidup, setiap tanggal 5 Nopember kita memperingati hari Cinta Puspa Satwa Nasional, tanggal 29 Desember kita memperingati Konvensi Keanekaragaman Hayati. Lalu ada Hari Lingkungan setiap tanggal 10 Januari, ada juga Hari Bumi, Hari Kehutanan, dan hari-hari peringatan lainnya. Itu semua tentunya dimaksudkan mengajak masyarakat untuk peduli pada kelestarian lingkungan.

Sayangnya diantara parpol-parpol peserta pemilu 2004, sebagian besar tidak menunjukkan kepedulian terhadap nasib lingkungan hidup kita, termasuk parpol besar. Dan diantara capres-capres kontestan pemilu kali ini, tampaknya juga tidak menjanjikan karena sebagian besar berangkat dari parpol yang tidak memiliki platform dan program di bidang lingkungan hidup.

Nasib flora-fauna Indonesia berada di tangan kita sendiri. Kalau kita tidak segera menyelamatkannya, kepunahan seperti di Singapura akan terjadi juga di negeri kita.

Adi Mustika

Pemerhati masalah konservasi

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s