Bibir Tompel Anggrek Hitam

Majalah INTISARI – Mei 2004

Jangan terkecoh. Meski pakai embel-embel hitam, anggrek ini tidak hitam seluruhnya seperti ayam cemani yang sekujur tubuhnya serba hitam. Tanaman ini justru dikuasai warna hijau muda kekuningan. Selain karena indah bunganya, anggrek ini menjadi tersohor lantaran nyaris punah.

Penulis: Adi Mustika, di Yogyakarta

anggrek hitam

Anggrek yang satu ini memang dikenal sebagai salah satu jenis anggrek yang indah bunganya. Itu sebabnya ia dibanggakan lalu diangkat rame-rame sebagai simbol flora Provinsi Kalimantan Timur. Kebetulan pula ia “penduduk” asli Pulau Borneo. Sayang sekali, anggrek yang bernama Latin Coelogyne pandurata Lindl ini hampir punah.

Celakanya, anggrek yang hanya tumbuh di Puruk Cahu, Taman Nasional Tanjungputing, dan di daerah perbatasan dengan Malaysia itu banyak diburu para turis mancanegara yang berkunjung ke sana. Buat oleh-oleh atau cendera mata, alasannya. Begitu kata Yohanes Paulus Dedy, kepala Divisi Rehabilitasi Hutan Kalimantan Tengah, seperti dikutip Media Indonesia Online (2/3/2004).

“Celakanya lagi, dalam setiap event internasional, jenis anggrek dari negeri kita banyak diklaim sebagai anggrek khas negara lain,” tambahnya.

Waduh! Sudah jatuh ketiban tangga lagi.

Itu belum seberapa. Kepunahan anggrek hitam, dan juga aneka flora-fauna spesifik Pulau Kalimantan, makin digenjot cepat oleh kebakaran hutan yang nyaris berlangsung sepanjang tahun. Faktor penyebab kepunahan makin lengkap dengan adanya aktivitas perambahan hutan tanpa mengindahkan kaidah lingkungan.

Untunglah ada “dewa” penyelamat. Setidaknya, Dedy – yang juga pemilik perusahaan penangkar tanaman bunga Indi Flowers – berhasil membudidayakan anggrek yang lagi “sekarat” itu.

Cekung betina
Tanpa bisa berbuat apa-apa, apalagi mengajukan protes ke lembaga “Hak Asazi Tanaman”, tahu-tahu anggrek ini dijuluki anggrek hitam. Orang Inggris juga sami mawon. Mereka mengolok-oloknya sebagai black orchid. Padahal yang hitam cuma bibir bunganya. Sementara bagian lainnya berwarna hijau terang. Mungkin karena warna hitam di bibir bunganya lebih mencolok daripada warna bagian lain, lalu dinamai begitu.

Nasibnya mungkin tak beda dengan orang atau bocah kecil yang dijuluki si Tompel gara-gara di pipinya ada noktah hitamnya sebagai penanda khas. Padahal kalau ditengok dari nama latinnya, enggak ada “hitam-hitam”-nya sama sekali. Coelogyne, yang menjadi nama marganya, berasal dari bahasa Yunani koilos (cekung) dan gyne(betina). Tolong jangan ber-piktor (pikiran kotor) dulu, karena itu semua merujuk pada bagian stigma atau putiknya yang cekung.

Nama marga Coelogyne dibuat pada 1825 oleh John Lindley, seorang pencinta berat anggrek. Sedangkan nama spesifik Coelogyne pandurata untuk anggrek hitam ini diciptakan pada 1853. Sebagai penghargaan atas jasa John Lindley, maka di belakang nama ilmiah anggrek hitam lalu dibubuhkan nama Lindl. Coelogyne pandurata Lindl.

Sosok tanaman epifit (tumbuhan yang hidup menempel pada tumbuhan lain tapi tidak mengambil unsur baru secara langsung dari tanaman yang ditempeli) ini relatif gampang dikenali. Bukan karena tompelnya, eh hitamnya, tapi karena bagian pangkal batangnya yang berbentuk bulbus pipih. Panjangnya bisa mencapai 12 cm dengan lebar 6 cm. Daunnya lebih panjang lagi, bisa mencapai 50 cm dan lebarnya sekitar 10 cm. Bunganya, yang menjadi daya tarik, bertandan. Setandan bunga anggrek hitam dapat memiliki 14 kuntum bunga dengan diameter sekitar 10 cm.

Kita sungguh beruntung karena tanaman ini senang berbunga manakala musim kemarau. Kebayang ‘kan kalau saja ia berbunga di musim hujan? Selain orang kurang leluasa menikmatinya akibat mendung yang tak tahu aturan, musim kemarau yang panas bisa menjadi adem dengan kehadiran si hitam dari Kalimantan ini.

Di Kalimantan anggrek hitam banyak dijumpai tumbuh di hutan kerangas. Ini tipe hutan yang memiliki areal terbuka pada formasi hutan hujan tropis dataran rendah. Istilah kerangas berasal dari bahasa orang Dayak Iban. Artinya, tanah yang tidak dapat ditanami padi karena memang kurang subur.

Di planet ini kerabat dekat anggrek hitam yang bermarga sama, Coelogyne,diperkirakan ada 100 – 150 jenis. Mereka tersebar di India, Cina, Asia Tenggara, dan Kepulauan Pasifik. Anggrek Coelogyne sudah lama dibudidayakan orang, karena bunganya memang terkenal indah dan hingga sekarang sudah banyak silangan yang dibuat.

Perlu pasangan serasi
Namun, di balik keindahannya anggrek hitam punya masalah. Struktur bunganya yang agak rumit menyulitkan dirinya untuk melakukan kegiatan “seksual” yang mengarah ke proses “kreasi” (lupakan dulu tujuan “rekreasi”). Syukurlah, ada “Mak Comblang” sebagai perantara sehingga ia bisa melangsungkan perkawinan. Di habitat aslinya di Borneo sana, “Mak Comblang” dengan sukses diperankan oleh binatang sebangsa lebah yang menyukai madu bunga anggrek.

Lebah-lebah pemburu madu itu satu demi satu mendatangi bunga anggrek untuk – apalagi kalau bukan – mengisap madunya. Tanpa disadari, ada pembonceng yang ingin merasakan bagaimana enaknya terbang (secara gratis). Enggak tahunya, si pembonceng yang berupa paket polen anggrek (disebut polinia) itu sedang kasmaran pada si jantung hati yang setia menanti di dalam putik. Polinia itu pun akhirnya kesampaian menumpahkan rasa rindunya. Maka terjadilah penyerbukan, dan bunga anggrek itu akan menjadi buah.

Bagaimana kalau tidak ada lebah yang berkunjung? Terpaksalah si polinia manyun dan bikin sedih orangtuanya. Bunga pun layu dan rontok sia-sia.

Begitulah yang sering terjadi di luar habitat aslinya. Bunga yang sedang dilanda birahi pun luruh tanpa bisa menghasilkan buah. Tetapi bagi para penangkar anggrek, keadaan seperti itu biasanya disiasati dengan mengambil alih peran lebah. Tentu saja polinia tidak merasakan nikmatnya terbang gratis, sebab ia hanya dicomot pakai semacam pinset, lalu ditaruh di kepala putik. Tak apalah langsung tembak, yang penting panah asmara meluncur lalu menancap di jantung sang pujaan. Lagi pula penangkar tidak bisa menangkap perasaan polinia, yang penting anggreknya bisa berbuah. Titik.

Setelah penyerbukan, terbentuklah buah yang memiliki rusuk tiga. Buah yang sudah tua dan berwarna cokelat akan pecah dengan sendirinya mengikuti alur rusuknya. Lalu, berhamburanlah biji-biji anggrek. Dengan ukurannya yang sangat kecil (sebesar butir tepung), sekali terhambur ada ribuan jumlahnya. Butiran biji sekecil itu tentu saja tidak muat untuk mengangkut cadangan makanan bagi embrionya.

Karena tanpa makanan cadangan, biji-biji anggrek tadi harus menemukan lingkungan yang cocok dan “pasangan” yang serasi, yakni mikroorganisme sebangsa ganggang. Mikroorganisme dan embrio anggrek membentuk hubungan saling menguntungkan: ganggang mendapatkan “rumah” dan embrio anggrek memperoleh catu makanan untuk pertumbuhan awalnya dari mikroorganisme itu. Masalahnya, enggak gampang mendapatkan lingkungan dan “pasangan” yang cocok. Maka, persentase biji anggrek yang dapat tumbuh alami sangat kecil.

Lain dengan di laboratorium. Dengan menggunakan metode kultur jaringan, persentase biji anggrek yang dapat tumbuh akan jauh lebih besar. Selain dengan biji, perbanyakan anggrek hitam dapat dilakukan dengan cara split, yaitu memisahkan bulbus yang sudah punya akar dari rumpunnya dan ditanam tersendiri.

Ah, pantesan hampir punah, wong susah begitu.

Baca juga:

Anggrek Itu “Buah Anu”

2 Responses to Bibir Tompel Anggrek Hitam

  1. Pingback: Bibir Tompel Anggrek Hitam | nurindahwongsirampog

  2. Pingback: ANGGREK HITAM CAGAR ALAM PADANG LUWAY « Ravii Ramadhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s