Elang Hitam Korban Salah Tuduh

Majalah INTISARI – Agustus 2003

Warna hitam yang menguasai hampir seluruh tubuhnya menjadi ciri khasnya. Ciri lainnya, ia termasuk burung monogami. Meski dilindungi peraturan sebagai burung yang diperdagangkan, ia mudah ditemui di pasar-pasar burung.

Ketika sedang asyik bermain gobak sodor (sebuah permainan tradisional di pedesaan), tiba-tiba sejumlah anak yang sedang bermain siang itu dikejutkan oleh suara anak-anak ayam yang menciap-ciap kebingungan. “Awas, ada elang!” teriak salah seorang.

Terlambat! Seekor anak ayam disambar elang, dibawa terbang dalam cengkeramannya. Anak ayam yang lain lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Menyaksikan peristiwa itu, pikiran anak-anak langsung menuduh, elang itu burung pemangsa anak ayam.

Tuduhan itu tidak sepenuhnya benar. Anak ayam bukan menu utamanya. Elang lebih menyukai binatang mamalia kecil seperti tikus, tupai, atau kelinci. Nasib anak ayam itu lagi apes saja. Dibandingkan dengan para mamalia itu, anak ayam relatif mudah disambar. Tinggal terbang di atas perkampungan sambil celingukan kanan-kiri, elang bisa leluasa menelikungnya dengan ketajaman matanya 2,5 – 8 kali lebih detail ketimbang mata kita. Kalau induk ayam kebetulan lagi meleng, dipastikan ia bakal kehilangan anaknya barang seekor.

Di bibir jurang
Sesuai namanya, sosok elang hitam mudah dikenali dari warna hitam (meski ada rona kemerahan) yang mendominasi bulu tubuhnya. Tapi tak semuanya serba hitam. Ada aksen berupa garis-garis putih pucat pada ekornya. Kakinya ber-warna kuning. Iris matanya cokelat.

Untuk mengetahui jenis kelaminnya, amati bagian pangkal paruh atau dikenal dengan istilah sera. Jika warnanya kuning dengan ujung paruh hitam, itu jantan. Pada betina, seranya berwarna lebih pucat, bahkan cenderung putih. Satu lagi yang membedakan, tubuh pejantan lebih kecil daripada betinanya.

Elang hitam termasuk anggota Accipitridae, suku terbesar di antara jenis burung pemangsa atau raptor. Menurut pakar raptor, di seluruh dunia jumlah anggota sukuAccipitridae sebanyak 217 spesies dalam 64 marga. Marga paling kecil di antaranyaIctinaetus yang anggotanya cuma satu, yaitu Ictnaetus malayensis atau elang hitam. Orang Inggris mengenalnya sebagai indian black eagle.

Tidak seperti para sepupunya yang lain, elang hitam memiliki daerah sebaran yang luas. Mulai dari India, Cina Tenggara, Asia Tenggara, Sulawesi, Kepulauan Maluku, dan Sunda Besar. Elang hitam bisa tinggal di daerah dekat laut sampai ketinggian sekitar 2.700 m dari permukaan laut. Anda yang sering mendaki Gunung Merapi berpeluang besar untuk dapat menikmati anggunnya si hitam ini. Ia membubung tinggi dengan cara unik: terbang dengan sayap terpentang penuh dalam kecepatan lambat, tanpa kepakan, seperti mengapung di udara. Sejenak ia terbang berputar-putar di atas hutan, lalu tiba-tiba menukik di atas kehijauan lereng bukit dengan segala keanggunannya. Bentangan sayap elang hitam dewasa bisa mencapai 1,5 m. Ukuran bodinya antara 70 – 80 cm.

Terkadang ia terbang di depan mulut gua, berputar-putar sambil mengintip, siapa tahu ada mangsa yang bisa disikat. Kelelawar atau burung sriti yang sedang asyik bermain tanpa menyadari ada marabahaya bisa menjadi sasaran empuk. Tahu-tahu wesss ….

Terbang dengan kecepatan rendah memang salah satu kepiawaiannya. Itu berkat bulunya yang panjang dan lembut. Manuver terbang pelan ini sangat membantu elang keluar-masuk sarang dengan mudah. Maklum, sarangnya bertengger di atas pohon yang tinggi, lebat, dengan tanaman merayap. Biasanya ia menyukai pohon yang berada di bibir jurang. Karena itu, ia harus bisa landing dengan mulus.

12 detik yang berarti
Januari hingga Maret merupakan bulan baik bagi elang hitam untuk kawin. Elang jantan dewasa memikat calon pasangannya lewat semacam tarian yang biasa disebut aerial display dengan cara terbang naik-turun dengan arah horizontal.

Gadis atau janda elang yang terpikat atraksi calon mempelai pria segera melakukan pendekatan. Kalau sama-sama cocok, jadilah mereka sepasang pengantin. Mereka lalu membuat sarang baru, atau memperbaiki sarang yang sudah ada kalau sebelumnya mereka pasangan lama. Di tempat itulah mereka membentuk sebuah keluarga.

Sarangnya lumayan besar, sekitar 1,2 x 0,3 m dengan kedalaman antara 16 dan 32 cm. Struktur sarang disangga oleh ranting dan ditutup dengan dedaunan.

Usai mengurusi sarang mereka, biasanya elang jantan kembali memamerkan tarianaerial display-nya untuk menunjukkan kepada dunianya bahwa dia sudah memiliki kawasan teritorial, sekaligus sebagai peringatan agar elang jantan lain tidak mendekat atau memasuki wilayah kekuasaannya. Ini penting untuk menjamin tersedianya pakan bagi keluarga.

Tarian udara yang diperagakan elang jantan juga menjadi daya tarik pasangannya untuk mulai memadu kasih. Selanjutnya, dua sejoli ini terbang memutar beriringan sambil sesekali bercumbu di udara. Apabila si betina sudah siap melakukan hubungan layaknya suami-istri, ia akan mencari dahan pohon dekat sarang dan bertengger di sana sambil merentangkan sayapnya.

Melihat sinyal itu, elang jantan segera mendekat dan terjadilah peristiwa yang ditunggu-tunggu setiap pasangan yang saling mencintai. Mereka tak perlu lama-lama bercinta, cukup 12 – 18 detik. “Foreplay“-nya yang relatif lebih lama. Namun, dalam urusan bercinta elang hitam boleh dibilang hebat. Dalam sehari mereka dapat melakukannya 2 – 3 kali. Kewajiban itu memang harus sering mereka lakukan agar si betina bisa menghasilkan telur.

Beberapa hari sebelum bertelur, elang betina sering menghabiskan waktu untuk bermalas-malasan. Begitu tiba saatnya bertelur, ia cuma sanggup bertelur satu butir. Bentuknya oval pendek berwarna putih kusam dengan bercak-bercak cokelat. Diameternya sekitar 58,9 x 49,6 mm. Selama masa bertelur hingga selesai mengerami, elang jantan akan dengan setia menyiapkan makanan untuk pasangannya.

Setelah 41 hari lamanya elang betina mengeram, pasangan yang berbahagia ini siap-siap menerima kehadiran si buah hati dengan berdebar-debar. Begitu bayi elang keluar dengan menjebol dinding cangkangnya, kebahagiaan terpancar dari wajah mereka. Si kecil mula-mula hanya dibalut bulu-bulu kapas berwarna abu-abu kecokelatan. Seminggu kemudian bulunya berubah warna menjadi putih. Begitu berumur satu bulan, mulailah sedikit demi sedikit tumbuh bulu jarum, yaitu bulu-bulu normal seperti kepunyaan elang dewasa.

Anak elang hitam mulai belajar terbang setelah 4 – 5 bulan umurnya. Begitu bisa terbang, ia akan mendapat pelajaran berburu dari induknya. Sampai umur setahun lebih ia masih terus dalam asuhan orang-tuanya sebelum saatnya hidup mandiri. Itu sebabnya elang hitam hanya bertelur setiap dua tahun sekali. Itu pun cuma sebutir.

Satu hal yang patut diteladani, elang hitam tergolong satwa monogami, tidak suka ganti-ganti pasangan alias tetap setia pada satu pasangan sampai salah satu atau keduanya mati. Belum diketahui dengan pasti berapa lama elang hitam mampu bertahan hidup di alam. Namun, menurut laporan yang bisa dipertanggungjawabkan, beberapa jenis elang mampu bertahan hidup sampai umur 20 tahun.

Baca juga:
Ilegal Tapi Mudah Ditemui di Pasar

Adi Mustika, di Yogyakarta & Y.D.S. Agus Surono

 

also view:

Elang Hitam dan Elang Bido Diduga Telah Punah

http://sains.kompas.com/read/2009/07/14/15235870/Elang.Hitam.dan.Elang.Bido.Diduga.Telah.Punah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s