ILEGAL TAPI MUDAH DITEMUI DI PASAR

Perburuan dan perdagangan elang akhir-akhir ini makin menjadi-jadi. Hal ini antara lain dipicu oleh kegemaran sebagian orang memelihara elang. Di pasar-pasar burung mudah sekali dijumpai perdagangan elang, seperti misalnya pasar burung Pramuka di Jakarta, atau di pasar burung Ngasem di Yogyakarta. Penjualannya pun terang-terangan. Harga satu ekor elang hitam dewasa di Pasar Ngasem Yogyakarta sampai Rp 450.000,-. Di pasar hewan Muntilan bisa Rp 300.000,-. Harga itu cukup menggiurkan bagi para pemburu. Biasanya, anak elang yang masih belum bisa terbang menjadi sasaran empuk para pencuri elang. 

Padahal elang hitam adalah salah satu jenis satwa yang dilindungi undang-undang. Dalam perundang-undangan yang terkait dengan satwa liar, semua spesies burung pemangsa (raptor) dimasukkan dalam spesies yang dilindungi. Beberapa peraturan pun ikut menguatkan. Misalnya, SK Menteri Pertanian No. 421/kpts/Um/8/1970 serta Keputusan Presiden Republik Indonesia No. 43 Tahun 1978 tanggal 15 Desember 1978 Tentang Pengesahan Convention on International Trade of Endangered Species of Wild Fauna and Flora (CITES): Konvensi tentang Perdagangan International Satwa Liar dan Tumbuhan Alam yang Terancam Punah. Ada lagi Peraturan Pemerintah No. 7 tahun 1999 tanggal 27 Januari 1999 tentang Pengawetan Jenis Tumbuhan dan Satwa.

Jadi, perdagangan elang jelas ilegal. Kalau melanggar, diancam pidana lima tahun dan denda Rp 100 juta. Nah, siapa yang salah kalau pada kenyataannya elang malah berkeliaran di pasar, bukan di habitat aslinya?

Adi Mustika, di Yogyakarta & Y.D.S. Agus Surono

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s