Gadung, Aman untuk Basmi Tikus

(Majalah INTISARI – Oktober 2002)

Tikus itu hama pendendam yang menjengkelkan sekaligus sulit diberantas tuntas. Apa saja dilahapnya, mulai dari tanaman di sawah sampai bahan makanan di rumah. Kadang-kadang tikus rumah juga melahap sabun mandi maupun kabel listrik. Hewan ini bahkan tidak hanya menularkan penyakit pes, tetapi juga leptospirosis.Satwa yang mau belajar dari pengalaman, ya tikus. Buktinya, jika salah satu dari mereka menjadi korban umpan racun maka teman-temannya tidak mau makan umpan yang sejenis. Atau, jika ada tikus yang terperangkap jerat, tikus yang lain tidak akan lewat tempat yang dipasangi jerat tadi. Peribahasa “hanya keledai yang terantuk pada batu yang sama” sepertinya betul-betul dicamkan oleh bangsa tikus. Mereka sungguh tidak dungu.

 

Binatang mengerat ini dijumpai di mana-mana. Di rumah, sawah, got, hutan, bahkan di gurun tandus sekalipun. Kemampuan kembangbiaknya juga hebat. Tikus betina mulai dewasa kelamin pada umur sekitar delapan minggu. Lamanya masa bunting sekitar 27 hari, dan sekali beranak bisa melahirkan 6 – 10 ekor anak. Seminggu setelah beranak, tikus betina sudah mulai memasuki masa subur lagi dan siap kawin.

Upaya pengendalian hama tikus memang gampang-gampang susah. Cara gropyokanbiasanya memang berhasil, tetapi hanya untuk sementara. Suatu saat populasi tikus bisa “booming” lagi untuk mengancam lahan pertanian yang siap panen. Sementara pengendalian hama tikus secara biologis oleh predator seperti ular, burung hantu, atau burung elang tak efektif lagi. Jumlah mereka sudah sangat sedikit, akibat terus diburu dan diperdagangkan. (Asal tahu saja, perdagangan satwa liar dan dilindungi di Indonesia termasuk salah satu yang terbesar di dunia, dan sekitar 90% merupakan satwa tangkapan dari alam.)

Selain dengan cara di atas, petani juga menggunakan cara kimia untuk memberantas tikus, yaitu dengan pestisida sintetik maupun pestisida organik. Sayangnya penggunaan pestisida sintetik menimbulkan dilema. Di satu sisi berhasil mengendalikan tikus, tetapi di sisi lain residunya tidak mudah terurai di alam sehingga sangat potensial menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan. Bahkan di beberapa daerah ada laporan sekitar 30% petani tercemari pestisida.

Di sinilah gadung bisa menawarkan solusi. Umbi tanaman merambat ini merupakan salah satu bahan yang dapat digunakan untuk membuat racun tikus. Karena berbahan alami, racun tikus jenis ini bersifat mudah terurai (biodegradable) di alam, sehingga tak bakal mencemari lingkungan.

Ada dua jenis gadung yang biasa dipakai untuk keperluan ini. Yang pertama gadung KB (Dioscorea composita), berbatang persegi empat dengan diameter 2 – 4 mm, dan tidak berduri. Berdaun tunggal berbentuk perisai dan permukaan daun licin. Jenis ini digunakan sebagai bahan dasar obat kontrasepsi. Jenis yang kedua, gadung racun (Dioscorea hispida) yang berbatang bulat dan berduri. Daunnya majemuk menjari beranak daun tiga, dan permukaan daun kasap.

Berdasarkan pengalaman petani di sejumlah lokasi, formula racun tikus dari gadung dibuat sebagai berikut. Siapkan 1 kg umbi gadung,  8 kg dedak, 1 ons tepung ikan, kemiri dan air secukupnya. Cara meramunya, umbi gadung dikupas lalu dilumatkan (pada saat mengupas kenakan sarung tangan plastik, karena getahnya bisa bikin gatal kulit), campurkan dedak, tepung ikan dan kemiri yang dihaluskan, tambahkan air secukupnya lalu diaduk menjadi adonan. Selanjutnya adonan dibuat pelet dan dikeringkan. Pelet siap digunakan sebagai umpan beracun.

Gadung KB, sesuai namanya, tidak mematikan melainkan hanya akan membuat para tikus mandul. Berbeda dengan jenis gadung racun, yang dapat mematikan. Maka disarankan penggunaan gadung berselang-seling antara gadung racun dan gadung KB untuk menyiasati sifat tikus yang jera umpan.

Adi Mustika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s