Jalur Lintas Selatan dan TNMB

(Radar Jember/Jawa Pos –22 Juni 2003)

oleh : Adi Mustika

Isu adanya rencana pembangunan jalan raya lintas selatan (jalur lintas selatan)   selebar 24 meter yang menghubungkan mulai dari Pacitan terus ke timur hingga Banyuwangi, rupanya terus bergulir. Rencana pembangunan jalur lintas selatan ini tampaknya merupakan kerja sama pemda provinsi Jawa Timur dengan kabupaten-kabupaten yang akan dilewati proyek jalan raya tersebut. Tidak hanya itu, isu rencana pembangunan jalur lintas selatan itu juga ada kaitannya dengan rencana membangun lapangan terbang di Jember. Itu semua bertujuan untuk menyediakan infrastruktur pertambangan, karena kabarnya   di Kabupaten Jember terdapat potensi tambang yang belum digarap. Dan bagian dari jalur lintas selatan yang akan melewati Kabupaten Jember sebagian akan sangat dekat atau bahkan berbatasan langsung dengan Taman Nasional Meru Betiri.

Dari aspek ekonomi, bisa jadi memang jelas pembangunan jalur lintas selatan itu akan memudahkan akses ke daerah-daerah yang selama ini agak tertinggal sehingga akhirnya akan bisa meningkatkan taraf perekonomian daerah-daerah yang dilalui itu.   Tetapi dalam tulisan ini terutama tidak menyoroti masalah tersebut dari aspek ekonomi melainkan dari sisi kelestarian keanekaragaman hayati, mengingat jalur lintas selatan yang direncanakan itu apabila jadi dilaksanakan sesuai rencana semula tentu sedikit banyak akan berdampak pada Taman Nasional Meru Betiri sebagai kawasan konservasi yang sangat berharga. Karena itulah maka teman-teman pegiat lingkungan pun angkat bicara pada masalah itu.

Meru Betiri yang pada tahun 1997 ditetapkan menjadi Taman Nasional Meru Betiri, merupakan sisa-sisa ekosistem hutan tropis yang masih baik yang ada di pulau Jawa. Hutan tropis adalah habitat dimana terdapat biodiversity (keanekaragaman hayati) yang jauh lebih besar dibanding hutan di daerah beriklim temperate (empat musim). Karena itu 5 besar negara-negara yang termasuk sebagai the megabiodiversity country adalah negara-negara yang memiliki hutan tropis, seperti Brazilia dan Indonesia.

Keanekaragaman hayati bagi manusia

Apakah keanekaragaman hayati itu? Keanekaragaman hayati adalah istilah yang digunakan untuk keanekaragaman kehidupan di bumi beserta pola-pola alamiah yang dibentuknya. Menurut ilmu biologi, semua bentuk kehidupan mulai dari mikroorganisme bersel tunggal (uniseluler) hingga organisme multiseluler yang kompleks dikelompokkan ke dalam 5 kingdom, yaitu: hewan, tumbuhan, fungi (jamur), algae (ganggang), dan monera. Keanekaragaman hayati mencakup semua spesies kehidupan itu beserta gen-gen yang terdapat pada setiap individu, dan mencakup pula ekosistem yang terbentuk oleh interaksi berbagai spesies tersebut.

Manusia sebagai bagian dari kehidupan di bumi sangat tergantung pada sumber daya alam. Keanekaragaman hayati adalah sumber daya alam terbarukan. Keanekaragaman hayati membantu kehidupan manusia dengan berbagai macam cara,   tetapi seringkali kita cenderung tidak menyadarinya. Kenyataan bahwa kemeja katun yang kita pakai, makanan yang kita makan, obat yang kita minum, pensil yang kita pakai untuk menulis, buku yang kita baca, dan banyak benda-benda di dalam rumah kita sesungguhnya berasal dari alam.

Sebagai contoh kecil, pada tahun 1970-an, sejenis virus menyerang tanaman padi budidaya (Oryza sativa) yang dampaknya bisa mengancam ketersediaan pangan bagi jutaan umat manusia. Tetapi kemudian ditemukan bahwa dengan menyilangkan spesies padi liar atau yang tidak dibudidayakan, yaitu Oryza nivara, dapat dikembangkan galur baru yang tahan virus. Sebagian besar obat-obatan yang digunakan di seluruh dunia bahan bakunya berasal dari tumbuh-tumbuhan. Dan hanya sebagian kecil saja tumbuh-tumbuhan bahan baku obat itu yang dibudidayakan, sedangkan sebagian besar berasal dari tumbuh-tumbuhan liar yang diambil langsung dari hutan-hutan di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Berbagai spesies kapas liar dengan cara konvensional maupun dengan teknik rekayasa genetik dipakai untuk disilangkan dengan tanaman kapas yang telah lama dibudidayakan, dan hasilnya adalah tanaman kapas yang tahan hama dan penyakit, dan juga kekuatan benang yang lebih baik.

Dalam tinjauan ekonomi sumber daya alam (natural resources accounting), hutan memiliki nilai guna langsung dan tidak langsung. Nilai guna langsung adalah berupa potensi kayu, sedangkan nilai guna tidak langsung berupa potensi ekonomi sumber bahan pangan, tanaman obat, bahan baku industri, ekowisata, mencegah terjadinya erosi dan banjir, dan sebagainya. Nilai guna hutan secara tidak langsung itu jauh lebih besar daripada sekedar potensi kayu saja seperti pandangan kita selama ini. Dari nilai guna total ekonomi hutan, nilai guna hutan secara langsung (berupa kayu) hanya 7 persen saja, sedangkan nilai guna tidak langsung (non-kayu) mencapai 93 persen.

Konservasi

Begitu tingginya nilai guna suatu hutan, sudah sepantasnya kita melestarikan hutan sebagai ‘bank plasma nuthfah’ keanekaragaman hayati.   Paradigma pembangunan saat ini sudah semestinya memperhatikan kelestarian keanekaragaman hayati.   Rencana pembangunan jalan raya lintas selatan yang akan berbatasan dengan Taman Nasional Meru Betiri sebaiknya ditinjau ulang, bukan berarti harus dibatalkan, tetapi bagian itu dialihkan agar tidak melewati Taman Nasional. Ada teman-teman pegiat lingkungan yang mengusulkan untuk memperlebar sekaligus menaikkan kelas jalan yang sudah ada. Karena bagaimanapun, jalan raya yang berbatasan dengan Taman Nasional akan memudahkan pihak-pihak yang tidak berkepentingan untuk masuk ke dalam Taman Nasioanl.   Sangat sulit untuk menjamin bahwa tidak akan terjadi kerusakan pada hutan Taman Nasional.

Rencana pembangunan jalur lintas selatan yang berbiaya besar tentulah ditujukan bukan sekedar untuk mendapatkan keuntungan jangka pendek, apalagi hanya dengan dalih untuk menyediakan infrastruktur bagi pertambangan. Bukan berarti pula pertambangan tidak penting untuk memajukan ekonomi, tetapi pengelolaan sumber daya alam harus memperhatikan keselamatan lingkungan.   Banyak sudah contoh kerusakan lingkungan akibat pertambangan yang mengabaikan keselamatan lingkungan.

Menyelamatkan keanekaragaman hayati memang penting demi masa depan kehidupan kita. Kita dapat menyelamatkan keanekaragaman hayati, tetapi tidak perlu dengan membuat pagar tinggi dan melarang orang mendekatinya. Konsep bioregion yang menggabungkan berbagai kajian ilmu alam seperti   geografi tumbuhan-tumbuhan (plantgeography), geografi hewan (zoogeography), klimatologi, hidrologi, fisiografi, geologi, dan ilmu sosial seperti sosiologi, antropologi, perlu ditanamkan untuk   memahami lingkungan secara utuh dan tepat. Konsep ini adalah perpaduan antara ekosistem dengan masyarakat dan kebudayaannya dalam konteks ruang. Paradigma pembangunan yang memperhatikan konsep bioregion akan dapat meredam nafsu eksploitasi, sehingga mengurangi dampak negatif seperti selama ini terjadi pada pengelolaan sumber daya alam yang bersifat sektoral.

Dengan menyandang status sebagai Taman Nasional mengandung konsekuensi bahwa Meru Betiri sudah bukan lagi milik Indonesia saja tetapi   menjadi warisan dunia. Kebijakan yang keliru yang mengancam kelestarian keanekaragaman hayati di Taman Nasional akan menjadi sorotan dunia.   Mari selamatkan keanekaragaman hayati, tanpa keanekaragaman hayati tidak ada masa depan.

Adi Mustika

Pemerhati masalah-masalah konservasi

2 Responses to Jalur Lintas Selatan dan TNMB

  1. Dedi agus s says:

    Memang konsekwensi pembangunan memang harus ada yg dikorbankan tetapi kita harus mrnyikapi dengan arif permasalahan ini. Pembangunan Jls yg belum rampung aja, tnmb sudah rusak, saya yang hampir tiap hari lewat TNMB melihat sudah banyak yg gundul akibat perambahan hutan. Permasalhannya bukan di bangun apa tidak tetapi adanya penddikan kpd masyarakat akan pentingnya kelestarian alam juga pegawai TNMN yang siap akan perubahan jaman ini.dgn prngawasan yg lebih kontinyu dan ketat, sehingga anggapan adanya pembangunan krmudian TNMB bs rusak harus dipikirkan juga masyarakat yang ada d bandealit mereka butuh pembangunan dgn cara prmbangunsn infrastuktur jalan shg mereka tidak terisolir.

  2. Anonymous says:

    Laju kerusakan hutan kita, menurut data itu, adalah 2 persen dari total hutan nasional atau 1,87 juta hektar per tahun.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s