Gua dan Karst, Ekosistem yang Perlu Dilestarikan

Majalah Pancaroba Nomor 15 Musim Kemarau Juli-September 1998

Oleh : Adi Mustika


Gua Jatijajar di daerah Kebumen, Jawa Tengah adalah salah satu obyek wisata gua yang banyak dikunjungi.  Wisatawan yang ingin berkunjung ke sana tidak mengalami kesulitan karena  sarana transportasi umum sudah menjangkau tempat tujuan.  Bahkan mobil dapat diparkir di pelataran gua.  Di dalam gua sudah terpasang lampu listrik sehingga kita dapat nyaman melenggang.  Di dekat pintu gua dibuat patung-patung legenda Kamandaka.  Orang awam yang sudah pernah berkunjung ke gua Jatijajar apabila ditanya tentang kesannya, sebagian besar akan mengatakan bahwa itu mengagumkan dan indah.

Gua Petruk, tidak begitu jauh dari gua Jatijajar, juga banyak dikunjungi orang.  Bedanya, di gua Petruk belum ada listrik.  Teras-teras tanganya hanya sampai di mulut gua, selanjutnya keadaannya gelap, licin berlumpur, dan bau kotoran kelelawar (guano) yang sangat menyengat.  Apalagi di bagian dalam ada jalan yang menyempit, yang memaksa kita harus merangkak untuk melewatinya.  Sebagian pengunjung jika ditanya tentang kesannya terhadap gua ini akan menjawab bahwa gua ini jelek dan tidak layak sebagai tempat wisata.  Setiap pengunjung yang keluar dari gua akan mendapati tubuhnya kotor oleh lumpur.

Gua Liyah, berada di sebelah gua Petruk, keadaannya masih alami, sama sekali belum tersentuh semen maupun listrik.  Kelelawar maupun burung layang-layang masih banyak tinggal di dalamnya.  Gua ini jarang dikunjungi orang, kecuali oleh para penelusur gua (caver).  Bagi sebagian besar wisatawan mungkin gua ini sangat tidak nyaman karena pintu guanya sempit, sedang keadaan di dalam gua berlumpur dan licin.

Masih banyak gua  lain yang keadaannya masih alami, masih belum ‘tersentuh’ tangan manusia, misalnya gua Gremeng, Semuluh, Seropan, dan berpuluh gua lainnya yang berada di kawasan karst Gunungsewu, Daerah Istimewa Yogyakarta.  Keadaannya amat berbeda dengan gua Jatijajar yang sudah ‘disentuh’ tangan-tangan manusia. Gua Jatijajar adalah contoh gua yang sudah ‘rusak’ dan ‘mati’ karena ‘keterampilan’ kita. Dikatakan sudah mati karena proses-proses pembentukan ornamen gua seperti stalaktit, stalagmit, kanopi, kolom, gordam dan sebagainya sudah berhenti, atau tinggal berlangsung sedikit.  Berbeda dengan gua Petruk, Liyah, Seropan dan gua-gua alami lainnya yang proses-proses pembentukan ornamennya masih berlangsung.  Stalaktit, stalagmit, kanopi dan bentukan lainnya masih terus ‘tumbuh’, bertambah panjang dan besar dengan kecepatan sekitar 1 cm dalam 100 tahun.  Ornamen gua yang masih ‘hidup’ tampak sangat indah, apabila terkena sorot lampu maka kristal-kristal karbonat yang membentuk ornamen itu  akan membiaskan sinar.

Selain memiliki ornamen yang sangat indah, gua juga merupakan rumah bagi beberapa jenis fauna seperti kelelawar, burung sriti, burung walet, jangkrik gua, ikan, udang dan kepiting.  Kelelawar dan burung menjadikan gua sebagai rumah tetapi mereka mencari makan di luar gua.  Beberapa jenis hewan seperti jangkrik gua, amblypigy (semacam laba-laba) selamanya hidup di dalam gua sehingga mereka memiliki antena yang panjang sebagai bentuk adaptasi.  Ikan dan udang yang hidup selamanya di dalam gua tubuhnya transparan karena tidak memiliki pigmen.  Hal itu juga merupakan bentuk adaptasi yang unik karena tidak dijumpai di luar gua.

Selain gua horizontal seperti gua Petruk, Jatijajar dan sebagainya, ada lagi gua vertikal atau disebut juga luweng.  Bentuknya seperti sumuran raksasa dengan kedalaman yang bervariasi antara satu luweng dengan luweng lainnya.  Misalnya luweng Jomblang di Gunung Kidul memiliki kedalaman sekitar 68 m dan diameter mulut gua sekitar 50 m.  Luweng Ledok Jambe memiliki kedalaman 50 m dan diameter mulut gua 48 m.  Luweng Ombo di Pacitan memiliki kedalaman 115 m, diameter mulut gua 60 m, diameter dasar luweng 130 m.  Dan masih banyak gua vertikal lainnya.  Uniknya, di dasar luweng terdapat berbagai jenis fauna; yang mungkin dapat dijumpai di sana misalnya katak, ulat, serangga.  Kehidupan yang ada di dalam luweng itu tentu saja sudah teradaptasi dengan keadaan lingkungannya.  Dan ini unik, keadaan seperti itu tidak dijumpai di luar luweng.

Bagi biologiwan, lingkungan gua adalah laboratorium yang besar.  Karena itu lingkungan gua yang masih alami meliliki nilai tinggi.  Kekayaan flora dan fauna di dalam gua menambah kekayaan hayati yang sangat besar yang kita miliki, maka tidak heran jika Indonesia kemudian disebut sebagai the megabiodiversity country.

Setiap kegiatan yang akan mengakibatkan kerusakan lingkungan gua pasti ditentang oleh pencinta lingkungan, dan khususnya para caver.  Misalnya ketika di daerah Gombong akan dibangun pabrik semen.  Mereka beralasan bahwa kehadiran pabrik semen akan merusak kawasan karst di Gombong dan mengacaukan sistem hidrologi di kawasan itu.  Lantas bagaimana penduduk sekitar memenuhi kebutuhan airnya?  Padahal mereka terbiasa mengandalkan air dari sumber air di gua-gua.

Di Gunung Kidul terdapat banyak penambangan batu gamping untuk  bahan bangunan yang dilakukan di kawasan karst.  Di Nusakambangan sekitar separuh pegunungan karstnya konon sudah dibeli oleh pabrik semen.  Padahal kita tahu bahwa kawasan karst beserta gua-gua yang ada di dalamnya adalah suatu ekosistem yang unik.

Kita sebenarnya maklum bahwa sebuah proyek pembangunan akan menimbulkan dampak.  Tetapi seberapa besar kita dapat meminimalkan kerusakan lingkungan akibat  proyek itu?  Jika semua proyek memberikan dampak buruk, dan menghabiskan gua-gua yang ada, lalu anak cucu kita kelak akan mendapatkan warisan apa?  Mereka hanya akan mendengar dongen tentang gua dengan stalaktit dan stalagmit, tanpa bisa membayangkan bentuknya.

Karenanya, gua sebagai harta kekayaan perlu kita wariskan kepada anak cucu kita dalam keadaan baik.  Artinya kita harus mengupayakan kelestariannya.  Barangkali Indonesia perlu memiliki cagar alam berupa kawasan karst  dengan gua-guanya beserta makhluk hidup yang ada di dalamnya.  dan pemanfaatan kawasan karst boleh saja berjalan  terus tetapi harus diatur mana yang boleh dan mana yang tidak boleh, dan peraturan ini harus ditegakkan dengan sungguh-sungguh.  Saya jadi teringat akan etika yang harus dijunjung tinggi oleh para caver ketika sedang menelusuri gua : ‘tidak membunuh apapun kecuali waktu, tidak meninggalkan apapun kecuali tapak kaki, tidak mengambil apapun kecuali gambar’.

*Penulis adalah anggota MATALABIOGAMA UGM Yogyakarta.

2 Responses to Gua dan Karst, Ekosistem yang Perlu Dilestarikan

  1. Seth Chandter DR says:

    Maraknya aktivitas penambangan di Kawasan Karst Kabupaten Gunungkidul, telah berakibat pada kerusakan lahan yang semakin meningkat.

  2. vita says:

    I am truly inspired with your writing talent nicely with the layout to your weblog. Is this a paid topic or did you modify it your self? Anyway stay up the excellent high quality writing, it is rare to peer a fantastic weblog like this 1 nowadays.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s