Kasuari, Betinanya Poliandri

Majalah INTISARI—Januari 2006

Penulis: Adi Mustika, di Yogyakarta

Jangan coba-coba adu cepat dengan kasuari. Kalau bukan atlet, Anda dijamin keok. Apalagi di habitatnya, jangan harap mudah ditangkap. Untuk menyelamatkan telur yang dierami atau anak yang baru menetas, kasuari jantan juga mengandalkan kemampuan larinya untuk mengalihkan perhatian si pemangsa.

Kasuari identik dengan Papua. Bahkan di Semenanjung Onin, Fakfak, beredar cerita rakyat tentang burung ini. Dulu kasuari punya dua keistimewaan: bisa terbang dan berjalan di tanah sekaligus. Dengan sayapnya yang besar ia suka menyembunyikan buah-buahan yang masak di pohon. Kali lain ia merontokkan buah-buahan itu dan memakannya di atas tanah. 

Kelakuan itu tentu saja membuat warga burung lain di hutan membencinya. Namun, mereka tidak bisa berbuat apa-apa. Akhirnya, diaturlah sebuah siasat. Diadakanlah lomba terbang, siapa yang terjauh, dia yang menang. Warga burung mewakilkan pada dara mustika yang dilecehkan oleh kasuari.

Sebelum lomba, masing-masing burung boleh mematahkan sayap lawan. Kasuari yang merasa lebih kuat langsung bersiap-siap mematahkan sayap dara mustika. Padahal, dara mustika sudah menyiapkan siasat buat melawan kepongahan kasuari. Dara mustika sudah memasang kayu di balik sayapnya, sehingga saat kasuari mematahkan sayapnya, terdengar bunyi “kretek …!” mirip suara tulang patah. Begitu sebaliknya, saat ia mematahkan sayap kasuari, maka kekuatannya jadi bertambah.

Begitulah, kasuari akhirnya kalah dalam lomba terbang. Dengan sayap yang patah ia terjerembab. Ia kehilangan sayapnya yang tidak bisa lagi membawanya terbang di udara.

Bisa berenang

 

Nama Casuarius juga berasal dari bahasa Papua, yaitu kasuyang artinya tanduk dan weri artinya kepala. Kalau diperhatikan sepintas, di kepala kasuari terdapat semacam tanduk yang sebenarnya pial atau cengger. Namun, ihwal tidak bisa terbangnya kasuari bukan karena ulah si dara mustika. Bersama burung unta dan emu, kasuari termasuk kelompok ratites (berasal dari kata Latin rata yang berarti rakit). Lo, apa hubungannya burung dengan rakit?

Rakit mengacu ke bentuk tulang dada burung. Kebanyakan burung pada tulang dadanya terdapat lunas yang membantunya dalam terbang. Kelompok yang bertulang dada rakit tadi merupakan kelompok burung yang tidak bisa terbang. Karena itu, otot-otot untuk terbang pada burung kelompok ratites mengalami evolusi menjadi kecil. Sebagai gantinya, kaki burung-burung ini menjadi kokoh dan kuat untuk berjalan kaki. Bahkan siap diajak ngebut sampai dengan kecepatan 50 km/jam.

Kemampuan untuk lari sipat kuping (cepat) sangat diperlukan kasuari, karena ia termasuk binatang buruan di Papua. Sejak dulu orang Papua menangkap kasuari untuk diambil dagingnya. Padahal, perburuan kasuari itu pekerjaan sulit. Pada dasarnya ia termasuk hewan yang selalu berusaha menghindari bertemu dengan manusia. Karena itu, begitu kepergok manusia, kasuari berubah menjadi binatang berbahaya. Mengganggu kasuari sama artinya mengundang bahaya. Luka-luka atau bahkan mungkin kematian bisa saja menerpa si pemburu. Kasuari menggunakan cakarnya yang berkuku tajam dan kuat, terutama kuku jari tengahnya, sebagai senjatanya.

Di habitat alaminya, burung ini tidak gampang terlihat. Ia memang pandai menyembunyikan diri dari manusia. Bila ada pemburu, mereka akan segera tahu dan berusaha menyembunyikan diri. Bila kepergok dan masih ada kesempatan, ia akan segera berlari menuju kerimbunan pohon. Bahkan sungai bukan alangan, sebab ia juga bisa berenang.

Namun, tanpa sadar kasuari meninggalkan jejak-jejak kehadirannya. Misalnya, dengan suara chug-chug-nya, atau terkadang bunyi kaki yang berdebam. Kali lain ia meninggalkan kotoran di sembarang tempat atau tapak kakinya masih hangat membekas di tanah. Sosok hewannya sendiri tidak kelihatan. Dari tanda-tanda itulah pemburu bisa memindai keberadaannya.

Tidak jarang para pemburu mengambil anak kasuari yang masih kecil untuk dipelihara di rumah, seperti memelihara ayam layaknya. Setelah besar barulah burung ini disembelih untuk dimakan dagingnya. Selain daging, bulu kasuari juga dimanfaatkan sebagai hiasan kepala. Telurnya juga dimakan.

Gelambir usus buntu

Kasuari dewasa memiliki bulu berwarna hitam mengkilat yang menutupi tubuhnya, sedangkan bagian leher ke atas tidak berbulu, gundul. Namun, lehernya yang jenjang itu justru berwarna merah dan biru mencolok. Di leher ini pula bercokol gelambir. Kakinya berwarna hitam, kekar, dan memiliki tiga jari. Sayapnya tidak begitu kentara, tinggal batang-batang bulu yang tampak menggantung di sisi kiri-kanan badannya. Yang betina berukuran lebih besar ketimbang yang jantan, dan cenggernya juga lebih tinggi.

Ada tiga spesies kasuari penghuni Papua. Casuarius casuarius atau kasuari gelambir ganda. Jenis ini terbesar ukurannya di antara ketiga spesies kasuari. Tingginya bisa mencapai 1,8 m, dan kedua gelambirnya bisa sepanjang 12 cm. Cenggernya sedikit miring ke kiri. Setiap bulunya terdiri atas dua batang bulu kembar dan tidak ada bulu kait, serta bulu-bulu cabang tidak melekat satu sama lain.

Casuarius casuarius tersebar hingga ke hutan sabana atau hutan eukaliptus danmelaleuca di dataran rendah Papua. Selain itu juga dijumpai di Pulau Seram dan Aru di Maluku serta di Semenanjung Cape York di Australia Utara.

Spesies kedua, C. unappendiculatus atau kasuari gelambir tunggal. Embel-embel usus buntu (apendiks) mengacu pada gelambirnya yang hanya satu dan panjangnya sekitar 5 cm. Ukuran tubuhnya agak lebih kecil ketimbang kasuari gelambir ganda. Tingginya sekitar 1,6 m. Kasuari gelambir tunggal menyukai hidup di hutan berawa di sepanjang pantai dan sungai-sungai di Papua. Juga dijumpai di Pulau Yapen, meski ada dugaan keberadaannya karena dahulu didatangkan orang ke sana.

Spesies ketiga, C. bennetti alias moruk atau kasuari kerdil. Inilah yang paling kecil di antara ketiga spesies. Tingginya hanya 1,1 m. Bulunya mirip sutera dengan warna hitamnya yang lebih gelap dibandingkan dengan dua saudaranya. Kasuari kerdil diketahui menghuni pegunungan hingga dataran rendah Papua. Selain itu terdapat juga di Pulau Yapen dan New Britain.

Burung Kasuari dikenal sebagai burung soliter, jarang dijumpai berpasangan kecuali pada masa berbiak. Di luar masa berbiak ia lebih senang sendirian. Kasuari mempunyai kebiasaan untuk mempertahankan daerah teritorialnya, terutama selama masa berbiak. Ini mungkin untuk menjaga keselamatan anaknya dan menjamin ketersediaan pakan yang cukup.

Pakan utama kasuari adalah buah-buahan hutan. Biasanya buah-buahan yang dimakan ukurannya tidak terlalu besar sehingga bisa ditelan bulat-bulat tanpa perlu dikunyah, lantaran bangsa burung tidak punya gigi. Beberapa jenis tumbuhan ficus menyediakan buah yang disukai kasuari. Buah palem dan pandan juga dimakannya. Tentu saja, semuanya buah-buahan hutan yang sudah jatuh ke tanah.

Menurut penelitian yang pernah dilakukan di Australia Utara, burung kasuari memakan buah-buahan tidak kurang dari 150 jenis tumbuhan, termasuk di antaranya beberapa jenis jamur dan siput. Dituturkan oleh beberapa penduduk di Papua, burung ini mencari makan di siang hari, dan kadang menggunakan “tanduk”-nya untuk membolak-balik serasah di lantai hutan saat mencari buah-buahan hutan yang jatuh, jamur, dan juga binatang kecil seperti serangga dan siput sebagai tambahan gizi.

Karena sangat tergantung pada buah-buahan hutan, mereka hanya bisa mempertahankan populasinya di hutan yang masih bagus yang bisa menyediakan pakan sepanjang tahun. Musim berbiaknya pun berlangsung pada musim buah-buahan hutan yang melimpah.

Habis bertelur, kabur
Kasuari termasuk hewan penganut sistem poliandri. Seekor kasuari betina akan kawin dengan lebih dari satu kasuari jantan. Soalnya, begitu bertelur, kasuari betina langsung ngeloyor tidak mau mengerami telurnya. Dengan enteng ia meninggalkan pasangannya dan mencari pejantan lain. Makin tua kasuari betina makin luas teritorialnya. Tentunya makin banyak pasangannya, dan – ini yang heboh – lebih agresif saat bercumbu sehingga keturunannya lebih banyak.

Musim kawin pada kasuari gelambir ganda umumnya dari bulan Juni – Oktober, tapi paling sering Juli dan Agustus. Sedangkan pada kasuari gelambir tunggal masa kawin berlangsung selama musim panas dan musim bertelur pada bulan Juni. Masa kawin kasuari kerdil terjadi pada akhir musim hujan atau bulan Maret dan April.

Kasuari jantan dan betina menduduki teritori tertentu pada saat bertelur. Betina meletakkan 3 – 6 telur berwarna kehijauan dalam sarang yang terbuat dari daun-daunan pada pangkal sebatang pohon. Berat satu butir telur mencapai 584 g. Hanya telur burung unta dan emu yang bisa menandingi besarnya telur kasuari.

Usai bertelur si betina pergi ke hutan meninggalkan sang jantan yang akan mengerami telurnya. Selama kurang lebih tujuh minggu, kasuari jantan sibuk mengerami telur. Setelah itu tugasnya belum berakhir. Begitu menetas, ia mesti menjaga anak-anaknya dari ancaman pemangsa.

Jika selama pengeraman muncul gangguan atau ancaman dari luar, sang jantan akan segera lari ke hutan, berusaha mengalihkan perhatian pemangsa terhadap telur atau anak-anaknya. Bagi pejantan, warna bulunya yang hitam kelam bisa dijadikan senjata pengecoh yang ampuh. Di dalam hutan belantara warna hitam tampak menyolok di mata pemangsa. Sebaliknya, warna hijau dari telur dan bergaris garis cokelat dari anak kasuari, kemungkinan besar tidak akan terlihat oleh pemangsa.

Begitu menetas, bayi kasuari berbulu halus dengan garis-garis cokelat, hitam, dan putih yang membujur mengikuti garis panjang tubuhnya. Bulu-bulu ini akan berganti menjadi cokelat pada tahun pertama usianya. Di tahun kedua mulai tumbuh bulu-bulu dewasa yang berwarna hitam mengkilat. Gelambirnya tumbuh pada umur 2 – 3 tahun. Setelah berumur 4 tahun anak kasuari mencapai kedewasaannya. Seterusnya, burung kasuari bisa hidup hingga umur 40 – 50 tahun jika selamat tidak ada alangan suatu apa pun.

Anak kasuari akan tinggal bersama kedua induknya sampai umur sembilan bulan sebelum mereka menjalani pola hidup soliter dan menduduki wilayah sendiri.

One Response to Kasuari, Betinanya Poliandri

  1. NEq says:

    Just wanna input on couple of common items, The internet site layout is perfect, the articles is quite superb

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s