Menonton Burung di Alam

Majalah Intisari—Juli 2005

Penulis: Adi Mustika, di Yogyakarta

“Birdwatching itu science yang paling sportif dan olahraga yang paling ilmiah,” begitu ujar seorang ornitolog (ahli burung) berkebangsaan Belanda yang tinggal di Indonesia, Bas van Balen. Rasanya, ungkapan itu memang pas untuk kegiatan pengamatan burung di alam.

Dulu kegiatan menonton burung hanya dilakukan oleh kalangan tertentu berkaitan dengan pekerjaannya, terutama ahli biologi. Namun, kini “hobi” itu bukan lagi hanya milik kaum biolog. Awam pun mulai menggemari aktivitas luar ruang ini. Bisnis pariwisata menangkapnya sebagai peluang, seperti yang bisa dijumpai di Australia, menonton parade penguin. Wisata nonton penguin bahkan menduduki peringkat ketiga sebagai atraksi wisata setelah Great Barrier Reef dan Ayer’s Rock di Negeri Kanguru itu. Afrika bahkan bisa memperoleh pemasukan AS $ 12 juta setiap tahunnya dari wisatabirdwatching.

Bagaimana dengan Indonesia?

Sejumlah kelompok pencinta alam dan lembaga swadaya masyarakat sudah memulainya di Jakarta, Bogor, Bandung, Semarang, Yogyakarta, Surabaya, dan Malang. Penggiat di bidang ini memang kebanyakan berasal dari kalangan mahasiswa.

Kita yang tinggal di Indonesia sangat beruntung karena memiliki banyak keragaman burung. Diperkirakan, sekitar 17% dari seluruh jenis burung di dunia ada di Tanah Air. Selain itu, letak negara kita yang strategis menjadi salah satu jalur migrasi burung dunia, sehingga pada waktu-waktu tertentu sering dilewati kaanan burung dari benua lain. Burung-burung ini mencari daerah yang lebih hangat.

Banyak tempat di Nusantara yang bisa menjadi lokasi bagus buat kegiatanbirdwatching. Untuk menonton burung-burung air dapat dilakukan di pantai, muara sungai, persawahan, danau, atau rawa. Burung lain bisa diamati di hutan-hutan yang kondisinya masih bagus, seperti taman nasional atau cagar alam yang banyak kita miliki. Taman kota terkadang juga merupakan habitat burung-burung liar.

Waktu terbaik untuk mengamati burung yitu pagi hari sekitar pukul 06.00 – 10.00, serta sore hari (pukul 16.00 sampai saat menjelang Matahari tenggelam). Pada saat-saat itu kita bisa dengan leluasa menikmati burung-burung diurnal (beraktivitas pada siang hari). Selain itu, saat musim migrasi juga menjadi arena birdweatching yang menarik. Soalnya, kita bisa melihat burung pendatang yang bukan burung asli negeri kita.

Migrasi burung dari utara berlangsung pada sekitar bulan Oktober – November, dan migrasi pulang sekitar Februari – Maret. Saat-saat migrasi seperti itu ratusan bahkan ribuan burung akan terbang memenuhi langit. Sebuah pemandangan yang menakjubkan.

Berhubung ini kegiatan luar ruang, sebaiknya kenakan pakaian lapangan saja. Supaya lebih nyaman kita bisa memakai kaus, topi, dan bersepatu olahraga. Siapkan juga bekal makanan dan minuman. Jangan pula ketinggalan teropong – monokuler atau binokuler terserah. Kamera, alat perekam, serta payung akan semakin membantu Anda dalam kegiatan menonton burung ini.

Namun, ada juga larangan selama birdwatching: jangan menentang Matahari, sebab yang akan terlihat nanti hanyalah bayangan burung; jangan berisik, karena burung-burung akan bubar; jangan pula berpakaian mencolok, sebab akan diketahui burung. Trik-trik seperti membuat kamuflase terkadang diperlukan agar bisa melihat burung sedekat mungkin.

Menonton burung di alam merupakan wujud cinta burung yang positif. Biarkan mereka bercengkerama dengan kebebasannya di alam. Kicau burung bernyanyi/Tanda buwana membuka hari/Dan embun pun memudar/Menyongsong fajar …, begitu lantun Chrisye lewat lagunya Sabda Alam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s