Pertanian Organik, Pertanian Ramah Lingkungan

Radar Jember/Jawa Pos – 8 Juni 2003

Negeri kita dengan tanah yang subur, air melimpah, dan iklim yang bersahabat, dengan dua musim –kemarau dan penghujan- adalah anugerah yang luar biasa yang patut kita syukuri. Dengan kondisi seperti itu memungkinkan untuk bertani hampir sepanjang tahun. Gemah ripah loh jinawi, tata tentrem karta raharja, subur kang sarwa tinandur………dst. Begitulah kata orang tua-tua dulu menggambarkan betapa negeri ini bak surga, ibaratnya tongkat kayu dan batu pun bisa menjadi tanaman.

Orang tua-tua, para petani kita zaman dahulu, adalah petani yang mandiri yang tidak bergantung pada pemerintah untuk menyediakan   pupuk dan pestisida.   Secara tradisional mereka mengetahui bahwa tanaman polong-polongan yang ditanam sebelum saat penanaman tanaman pokok, atau ditanam secara tumpang sari, dapat meningkatkan kesuburan tanah. Tumbuhan paku air yang nama botaninya Azola yang tumbuh bersama padi di sawah, adalah bukan gulma melainkan justeru mambantu meningkatkan kesuburan tanah. Kotoran hewan ternak dan serasah atau sampah daun-daunan tidak dibuang begitu saja melainkan diolah dan setelah mengalami   pembusukan   akan menjadi pupuk yang sangat baik bagi tanaman budidaya.

Petani juga mengetahui bahwa ular di sawah, burung hantu, burung elang, adalah sahabat para petani karena hewan-hewan itu adalah pemangsa tikus yang merupakan hama tanaman. Burung sebangsa walet dan sriti, kelelawar, adalah hewan-hewan pemangsa serangga seperti wereng dan belalang yang merupakan musuh petani. Burung air seperti blekok dan kuntul memangsa moluska yang suka menggerogoti tanaman padi di sawah.

Sebagai sebuah negeri yang subur, ternyata pertumbuhan populasi penduduknya pun meningkat pesat. Salah satu tantangan besar yang dihadapi pemerintah pada tahun-tahun belakangan adalah bagaimana menyediakan bahan pangan yang mencukupi untuk mengimbangi pertumbuhan populasi penduduk yang cepat. Salah satu solusinya adalah penggunaan pestisida untuk meminimalkan kehilangan hasil akibat serangan organisme pengganggu tanaman petanian. Maka sejak tahun 1970-an, pemerintah Indonesia menggalakkan pemakaian pupuk dan pestisida kimia secara besar-besaran untuk menggenjot produksi pertanian.

Pada masa itu pupuk dan pestisida kimia dianggap sebagai jaminan keberhasilan bertani, tanpa itu hampir dapat dipastikan hasil pertanian akan jelek. Dengan ditunjang subsidi pemerintah yang mencapai 80% dari harga pupuk dan pestisida kimia itu maka berlomba-lombalah para petani menabur pupuk dan menyemprot lahan mereka dengan pestisida kimia, makin banyak menyemprot makin   tinggi hasil yang akan mereka dapat. Sebagai hasil dari usaha keras pemerintah menggalakkan intensifikasi pertanian dan penggunaan pupuk dan pestisida kimia, pada masa itu negeri kita mampu berswasembada beras. Prestasi yang   diakui oleh dunia, dan presiden kita berpidato di depan para pemimpin dunia.

Lewat satu dekade sejak pemerintah menggalakkan penggunaan pupuk dan pestisida kimia, yaitu pada sekitar tahun 1984-1985, mulailah banyak penelitian yang menunjukkan dampak negatif penggunaan pupuk dan pestisida kimia secara besar-besaran. Beberapa diantaranya adalah kasus yang cukup menonjol yaitu keracunan pada manusia akibat kontak langsung dengan pestisida kimia, ini terutama terjadi pada para petani. Hewan ternak juga mengalami keracunan akibat tercampurnya pakan dengan tanaman yang terkena pestisida. Hama menjadi resisten, dan banyak hewan-hewan pemangsa ikut mati, akibatnya kemudian terjadi serangan hama besar-besaran. Selain itu residu pestisida menyebabkan pencemaran lingkungan di areal pertanian yang cukup berbahaya karena terjadi kontaminasi air tanah, udara dan dalam jangka panjang akan terjadi kontaminasi terhadap manusia dan makhluk hidup lain.   Hal ini kembali lagi membahayakan masyarakat yang mengkonsumsi produk pertanian yang tercemar berbagai zat beracun dalam pestisida kimia.   Zat-zat beracun ini sudah sampai ke dalam tubuh manusia, dan terakumulasi di dalam tubuh.

Sejak sekitar tahun 1997 ketika terjadi krisis, harga pupuk dan pestisida kimia menjadi tak terjangkau oleh petani akibat subsidi ditiadakan. Lalu mulailah terdengar ajakan untuk mengembangkan pertanian organik.   Pertanian organik merupakan pertanian yang tidak memakai pupuk dan pestisida kimia. Sebenarnyalah sebelum tahun 1970-an hampir semua petani di negeri kita melakukan apa yang dinamakan pertanian organik. Tetapi kini baru disadari pentingnya pertanian organik untuk mengatasi tingginya pencemaran di areal pertanian. Jadi pertanian organik yang ramah lingkungan sebenarnya   bukanlah hal baru.

Dalam pengembangan pertanian organik, pupuk dan pestisida yang digunakan semuanya berbahan organik. Karena terbuat dari bahan alami, keuntungan pupuk dan pestisida organik ini adalah   mudah terurai di alam (biodegradable) sehingga tidak meninggalkan residu yang membahayakan manusia dan hewan ternak.   Negeri kita yang subur ini menyediakan banyak tumbuh-tumbuhan yang dapat dibuat menjadi pestisida. Tumbuh-tumbuhan secara alami menghasilkan metabolit sekunder yang merupakan bahan kimia sebagai alat pertahanan dari serangan organisme pengganggu.   Saat ini diketahui ada lebih dari 2.000 jenis tumbuhan yang mengandung bahan pestisida. Padahal negeri kita memiliki tumbuh-tumbuhan tidak kurang dari 30.000 jenis. Dengan tanpa pupuk dan pestisida kimia jelas pertanian organik lebih ramah lingkungan, karena hampir tidak menyebabkan pencemaran yang berarti.

Beberapa istilah juga dipakai untuk pertanian organik ini, seperti low input agriculture, alternative agriculture, atau sustainable agriculture. Meski istilah yang digunakan bermacam-macam, tetapi intinya sama yaitu : (i).menghasilkan produk pertanian dengan kualitas dan kuantitas yang optimal; (ii).meminimalkan pemakaian bahan yang tak terbaharui; (iii).mengupayakan kesuburan tanah secara lestari; (iv).meminimalkan kemungkinan terjadinya kerusakan lingkungan hidup;   (v).bersahabat dengan alam.

Ada kabar menarik yaitu Departemen Pertanian Republik Indonesia akan mengembangkan pertanian padi organik untuk kepentingan ekspor yang direncanakan tahun 2010. Tetapi sebenarnyalah kebijakan itu patut disesalkan, paling tidak dari dua hal.   Pertama, mengapa untuk mengembangkan pertanian organik hanya untuk padi saja, itupun hanya untuk keperluan ekspor. Itu dapat diartikan masyarakat Indonesia akan tetap dibiarkan mengkonsumsi beras dan produk pertanian lain yang tercemar berbagai zat beracun   dalam pestisida. Kedua, mengapa harus menunggu sampai tahun 2010? Apakah petani Indonesia akan terus dibiarkan memakai pupuk dan pestisida kimia yang membahayakan itu? Sepertinya keberpihakan pemerintah kepada rakyatnya masih   rendah. Bukankah lebih baik jika pertanian organik dikembangkan sejak awal, terutama untuk meminimalkan risiko pencemaran lingkungan. Kalau pencemaran lingkungan terus dibiarkan tentu akan menurunkan kualitas kehidupan kita. Siapa yang rugi?

Adi Mustika, Peneliti dan Konsultan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s