Pohon Rumah Semut

Majalah INTISARI – Juli 2002

Myrmecodia hidup sebagai epifit pada tumbuhan lain

Di Maluku ia dikenal dengan nama pohon rumah semut. Di Merauke, disebut rumah semut, atau benalu. Sedangkan orang Biak menamai benalu jantan. Kenapa kok disebut begitu? Tidak diperoleh keterangan yang jelas. Juga tak ada indikasi hubungan tumbuhan ini dengan ”masalah kejantanan”. Atau, mungkin karena berduri lantas dikatakan jantan. Yang jelas dalam literatur botani, tumbuhan ini diberi nama Myrmecodia beccarii dan dikelompokkan ke dalam suku Rubiaceae.

Myrmecodia ditemukan di Papua, Australia, dan pulau-pulau di Pasifik Barat. Habitat di hutan melaleuca, yaitu hutan di lahan berawa yang ditumbuhi pohon kayu putih, seperti di Taman Nasional Wasur, Merauke, atau tempat lain yang kondisinya serupa. Juga ditemukan di hutan mangrove Timika dan Biak.

Yang jelas, tumbuhan ini benar-benar rumah semut. Yang lebih unik adalah adanya simbiosis mutualisme, hubungan yang saling menguntungkan di antara keduanya. Umumnya semut membuat sarang di pohon dengan cara melekatkan daun-daun. Bisa juga mereka bersarang di balik kulit pohon. Pada Myrmecodia, semut justru bersarang di dalam umbinya.

Sebenarnya tumbuhan ini bukanlah benalu melainkan tumbuhan epifit,  seperti halnya anggrek. Pangkal batangnya yang melekat di pohon berbentuk semacam umbi mencapai 30 cm. Batang dan umbinya berduri. Dalam umbi itulah terdapat labirin, lorong-lorong yang dihuni koloni semut.

Bagian dalam umbinya berupa lorong-lorong sebagai rumah semut.

Jenis semut penghuninya adalah Iridomyrmex cordatus,Hypochrysops apollo atau Ogyris aenone. Mereka pun rupanya memberikan keuntungan lebih dengan mengusir koloni semut lain, sepertiOecophylla smaragdina atau melahap hama lain semisal ulat dan kutu. Myrmecodia juga mendapat keuntungan langsung berupa ”remah-remah” dari rumah semut sebagai sumber hara mineral. Karenanya Myemecodia dapat bertahan hidup di area yang produktivitasnya rendah.

Yang menarik, selain simbiosis mutualisme, terbentuk hubungan timbal balik saling menguntungkan dalam mikroekosistem di antara tiga pihak yang terlibat. Myrmecodia menyediakan tempat tinggal untuk semut, semut mengendalikan hama sehingga pohon inang tak terganggu, lalu pohon inang menyediakan tempat bagi Myrmecodia.

Di Biak, ada sekelompok masyarakat yang memanfaatkan ekstrak umbi tumbuhan ini untuk mengobati penderita penyakit disentri, panas dalam, dan gangguan pencernaan lainnya. Bagian dalam umbinya yang lunak juga bisa digunakan untuk ”mematangkan” bisul dengan cara dibalurkan pada bisul itu. Setelah bisul melunak, isi beserta ”mata” bisul gampang dikeluarkan. Sayangnya, cairan umbi menyebabkan sedikit rasa gatal pada kulit. Ada juga masyarakat membalurkannnya pada kening untuk menghilangkan pening.

Adi Mustika, di Yogyakarta

One Response to Pohon Rumah Semut

  1. sarang semut papua says:

    Amazing things here. I am very glad to peer your article. Thank you so much and I’m taking a look forward to touch you. Will you kindly drop me a e-mail?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s