Tiada Obat Lontar pun Jadi

Majalah INTISARI – Januari 2004

Jauh sebelum mengenal kertas, masyarakat Nusantara menggunakan daun lontar sebagai media tulis. Naskah para pujangga kraton atau ajaran-ajaran agama Hindu ditulis di atas daun lontar. Tak cuma itu, pohon ini ternyata banyak manfaatnya, termasuk sebagai obat.

 

Sosok lontar bisa dikenali dari bentuk pohonnya yang tingginjlujur tanpa cabang. Maklum, pohon ini masuk golongan tumbuhan monokotil. Yang sudah dewasa tidak kalah tingginya dengan pohon kelapa, bisa mencapai 30 m. Bahkan batangnya bisa lebih besar. Daunnya memiliki petulangan menjari, berbentuk seperti kipas dengan lebar antara 1 – 3 m. Daun inilah yang digunakan oleh orang zaman dulu untuk membuat “buku” karena ukurannya yang panjang (bisa 1 – 1,2 m) dan kuat. Menurut catatan orang Belanda, lontar masih dipakai dalam surat-menyurat resmi para penghulu suku Sasak sampai akhir abad ke-19.

Lontar merupakan salah satu jenis palem dengan sebaran geografis meliputi India, Sri Lanka, Asia Tenggara, sampai Papua. Diperkirakan asalnya dari India dan Sri Lanka. Di India pohon ini dijadikan tameng angin bagi suatu dataran. Kadang dimanfaatkan sebagai “halte alami” bagi burung, kelelawar, dan binatang liar lainnya. Pohon ini bisa tumbuh pada daerah dengan ketinggian sampai 500 m di atas permukaan laut. Bunganya bersifat dioecious, artinya bunga jantan dan bunga betina tidak berada dalam satu pohon. Makanya, ada pohon lontar jantan, ada pohon lontar betina.

Beberapa daerah di Nusantara mengenalnya dengan nama tersendiri. Masyarakat Jawa menyebutnya siwalan atau rontal. Orang Bali juga menyebut rontal. Di Pulau Sawu, NTT, dinamai kepuwe duwe. Sedangkan tetangganya di Pulau Roti menamainya tua dan orang suku Marind di Papua mengenalnya sebagai uga. Nah, beberapa sebutan tadi di lidah orang Inggris menjadi palmyra palm atau wine palm. Rupanya, nira lontar bisa diubah menjadi wine atau tuak. Pas betul dengan namanya.

Agar tidak bingung dengan banyaknya nama, literatur botani menamainya sebagaiBorassus flabellifer. Ia masuk keluarga palem-paleman (Aecaceae). Bersamaan dengan “Hari Cinta Puspa – Satwa” pada 10 Januari 1993 lalu, lontar diresmikan sebagai flora Provinsi Sulawesi Selatan.

Betinanya lebih manis

Nama lontar bisa jadi berasal dari rontal, yang artinya daun pohon tal. Mungkin karena agak susah diucapkan, diputarlah huruf awal dan akhir pada rontal sehingga menjadi lontar. Yang dimanfaatkan sebagai media tulis adalah daun mudanya. Tapi bukan sekadar sebagai media tulis saja. Daun lontar juga bisa dianyam untuk dijadikan keranjang, topi, tikar, atau barang anyaman lain. Untuk pembuatan anyaman itu yang diambil bagian daun yang lebarnya kira-kira sama, lalu dipotong membujur sesuai alur seratnya, dan lidinya dibuang.

Batang pohon lontar bagian luarnya atau kulit luarnya cukup keras dan tebal, kira-kira 3 cm. Seratnya tampak kekuningan. Sedangkan bagian tengahnya tidak keras. Nah, bagian luar inilah yang dapat dimanfaatkan untuk berbagai keperluan, semisal dibuat tongkat. Untuk itu, biasanya diambil pohon yang tidak terlalu tua karena pohon muda tidak bisa awet, cepat lapuk, dan mudah terserang hama. Orang-orang di Nusa Tenggara dapat membedakan mana pohon yang kuat dan tidak. Pohon yang kuat biasanya pohon jantan dengan kayu yang lebih berat dibandingkan dengan yang betina.

Selain daun dan kayunya, pohon lontar bisa diambil niranya dengan cara disadap sebelum mekar bunganya. Karena ada tandan jantan dan tandan betina, penyadapan tiap pohon pun berbeda. Pada tandan betina, mula-mula kuntum bunga dipotong rata, selanjutnya nira ditampung di sebuah wadah (umumnya dipakai bambu). Pada tandan jantan, mula-mula mayangnya dijepit dengan kayu untuk mematikan kuntum bunganya. Selanjutnya bisa diiris sepotong dari semua bulir seperti dilakukan pada tandan betina, lalu niranya ditampung. Pengirisan ini bisa dilakukan setiap hari.

Soal rasa, nira dari mayang bunga betina lebih manis ketimbang nira dari mayang bunga jantan. Agak mirip nira kelapa. Anehnya, lontar menghasilkan banyak nira di musim kering tatkala udara lebih panas dan tanahnya kering. Saat musim penghujan produksi nira justru menurun.

Nira lontar ini bisa dibikin gula. Jika difermentasikan, akan diperoleh tuak, minuman tradisional berkadar alkohol tinggi. Di Pulau Sawu dan Rote, dulu nira dan gula lontar menjadi komoditas yang penting sebagai bahan makanan. Dengan begitu lontar memiliki nilai yang tinggi, laiknya sagu bagi masyarakat Maluku. Sayangnya, saat ini popularitas nira dan gula lontar tergeser gula tebu.

Camilan dari akar
Jika tidak disadap, setiap mayang dapat menghasilkan buah sebanyak 20 – 24 butir. Ukuran buahnya antara 15 – 20 cm. Setiap buah berisi tiga biji yang ukurannya kira-kira sebesar telur ayam tetapi agak pipih. Kulit buahnya lebih tebal daripada kulit kelapa. Pada buah yang muda, daging buahnya mirip dengan kelapa muda. Hanya saja airnya sangat sedikit.

Di daerah Tuban sampai Pati, juga di Yogyakarta, pada saat musim kemarau di pinggir jalan raya sering dijumpai penjual nira lontar dan buah lontar muda. Rasanya segar seperti buah kelapa muda, apalagi jika ditambah dengan es.

Jika buahnya sudah tua, warna kulitnya menjadi hitam kecokelatan, dan daging buahnya menjadi sangat keras seperti batu. Pada buah yang berkecambah, endosperm atau daging buahnya itu berubah menjadi serabut yang lebih halus daripada sabut kelapa, dan tumbuh semacam akar yang panjangnya sehasta, ukurannya kira-kira sebesar jari. Tunasnya justru tumbuh dari ujung akar itu. Akar kecambah lontar sebenarnya bisa dimakan. Di Makassar akar itu direbus atau digoreng menjadi camilan yang enak.

Dibandingkan dengan gula tebu, gula lontar mengandung lebih banyak nutrisi, yang terdiri atas protein (1,04%), lemak (0,19%), sukrosa (76,86%), glukosa (1,66%), mineral total (3,15%), kalsium (0,861%), dan fosfor (0,052%). Masih ada 11,01 mg zat besi per 100 g dan 0,767 mg tembaga per 100 g. Sadapan nira segar dilaporkan merupakan sumber vitamin B kompleks yang bagus.

Tak sampai di situ saja kehebatan pohon ini. Beberapa sumber melaporkan bahwa hampir semua bagian pohon bisa digunakan sebagai bahan pengobatan. Tanaman yang muda bisa digunakan untuk mengobati disentri atau GO (penyakit kencing nanah). Sedangkan akarnya bisa dipakai untuk obat diuretik; air rebusan akar bisa dimanfaatkan untuk mengobati penyakit yang ada hubungannya dengan pernapasan. Gula yang dihasilkan dari nira dipercaya tangguh melawan racun. Masih banyak bagian tanaman lontar yang bisa dipakai untuk pengobatan.

Adi Mustika, Pencinta alam


Baca juga:
Budaya & Budidaya Lontar

2 Responses to Tiada Obat Lontar pun Jadi

  1. ichal says:

    mantap bro postinganx. .

  2. Rocco Lanfear says:

    I really like your writing style, good information, thankyou for posting : D.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s