nama latin

dulu di SMP saya enggak begitu bisa menghafal nama-nama latin tanaman dan hewan. rasanya susah banget. yang saya apal justru gaya mengajarnya guru biologi, yang intronya biasanya review sebentar pelajaran kemarin, setelah itu mengatakan,”ya baik, buka buku makhluuk……” selain itu juga masih ingat kata-kata mutiara: “omne vivum ex ovo omne ovum ex vivo“, tapi belum mudeng juga, cuma kata-kata itu coba dipahami dengan bahasa lokal: ayam berasal dari telur dan telur berasal dari ayam, tapi lalu bingung lagi, duluan mana ayam atau telur? kalau duluan ayam trus dia berasal dari telur apa? kalau duluan telur trus siapa yang bertelur dan siapa yang ngangremi (mengerami)?

setelah di SMA mulai sedikit hafal kata-kata latin, misalnya oryza sativa (padi), plasmodium vivax. tapi masih tetep menganggep sulit, jadi waktu naik klas 2 milih jurusan fisika, karena katanya pelajaran biologinya lebih sedikit ketimbang anak jurusan biologi. ternyata diterima di jurusan fisika, masuk klas A1-1 (waktu itu jurusan A1 ada 3 klas).

eh tapi saya kuliahnya ketrimanya di biologi, yang harus menghafalkan escericia coli, manihot utilissima, clitoria ternatea, galus galus bankiva. trus pas semester brp saya agak lupa, dapat mata kuliah tata nama tumbuhan, dimana dijelaskan aturan pemberian nama latin. eh saya kemudian jadi asisten praktikum di lab.taksonomi tumbuhan. tapi sekarang saya sudah lama enggak berhubungan dengan ilmu biologi lagi, jadi sudah banyak lupa.

beberapa waktu lalu saya jadi ingat lagi soal nama latin. waktu itu saya nonton ujian disertasi di IPB, kandidat doktornya itu dosen biologi unsoed, penelitiannya tentang jambu-jambuan di sumatera. dari penelitiannya itu dia dapat bonus menemukan 5 spesies baru jambu-jambuan setelah dicocokkan dengan spesimen di leiden dan kew botanic garden.

pas ujian itu salah satu penguji menanyakan soal pemberian nama latin untuk spesies baru itu. dijawabnya bahwa pemberian nama latin itu suka-suka. maksudnya terserah kita mau memberi nama apa, nama yang artinya bagus atau nama yang artinya jelek juga boleh. bisa juga untuk mengabadikan nama orang yang kita cintai, atau nama penemunya (misalnya: rafflesia arnoldi), bisa juga misalnya kita benci setengah mati dengan seseorang lalu untuk melampiaskannya kita beri nama jambu yang bentuknya jelek banget kita beri nama dengan orang yang dibenci itu. atau bisa juga nama itu dari bahasa jawa. nah, nama itu kemudian dilatinkan, disesuaikan dengan aturan pelatinan. enggak harus diterjemahkan ke bahasa latin tapi cukup mengikuti aturan tata nama latin. misalnya: gnetum gnemon (melinjo) itu berasal dari bahasa maluku ganemo.

saya jadi ingat dulu waktu kuliah, untuk tanaman dan hewan ada sedikit perbedaan aturan. untuk tanaman, nama depan (nama genus) dan nama belakangnya (nama spesies) enggak boleh berupa pengulangan, jadi harus beda, misalnya: oryza sativa (padi). tapi untuk hewan boleh berupa pengulangan kata, misalnya: galus galus (ayam). trus pemilihan kata itu juga harus memperhatikan gender. ada kata untuk menunjukkan laki-laki, perempuan, dan netral. penggunaannya harus sesuai. misalnya untuk oryza sativa enggak boleh ditulis oryza sativus. tapi untuk ketimun ditulis cucumis sativus, bukan cucumis sativa. hm…agak ribet juga ya.

01 mei 2010

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s