Jangan Takut Mati, Jangan Minta Mati

Pernah dengar lagunya Bimbo ini kan?

Hidup bagaikan garis lurus
tak pernah kembali ke masa yang lalu
Hidup bukan bulatan bola
yang tiada ujung dan tiada pangkal

Hidup ini merangkak terus
semakin mendekat ke titik terakhir
Setiap langkah hilanglah jatah
menikmati hidup, nikmat di dunia

Pesan Nabi tentang mati
Jangan takut mati karena pasti terjadi
Setiap insan pasti mati
Hanya soal waktu

Pesan Nabi tentang mati
Janganlah minta mati datang kepadamu
Dan janganlah kau berbuat
menyebebabkan mati

Tiga rahasia Illahi
yang berkaitan dengan hidup manusia
Kesatu, tentang kelahiran
Kedua, pernikahan
Ketiga, kematian

Penuhi hidup dengan cinta
Ingatkan diri saat untuk berpisah
Tegakkan sholat lima waktu
Dan ingatkan diri saat disholatkan

Pesan Nabi tentang mati
Jangan takut mati karena pasti terjadi
Setiap insan pasti mati
Hanya soal waktu

Pesan Nabi tentang mati
Janganlah minta mati datang kepadamu
Dan janganlah kau berbuat
menyebebabkan mati

Pesan Nabi jangan takut mati
Meski kau sembunyi, dia menghampiri
Takutlah pada kehidupan sesudah kau mati
Renungkanlah itu

*****

Kalau mendengar lagu itu, dalam suasana tertentu, saya kadang teringat bapak dan nenek saya. Ceritanya begini, pada hari terakhir bulan Ramadhan tahun 1998 saya baru pulang dari Jogja. Sampai di rumah saya lihat ada yang tidak biasa pada bapak saya. Buku-bukunya bapak yang biasanya ditata di lemari buku, hari itu sudah dikeluarkan dari lemari dan dikemasi kakak saya dan diikat tali rafia. Ketika saya tanya, bapak bilang,”Buku-buku kuwiwisora kanggo” (buku-buku itu sudah tidak terpakai lagi).  Malamnya mau bayar zakat fitrah pun tidak seperti biasa.  Biasanya bapak jadi panitia zakat, hari itu tidak lagi. Biasanya zakat seluruh anggota keluarga dibayarkan oleh bapak ke panitia, tapi malam itu disuruh bayar sendiri-sendiri.

Malam itu saya sedikit ngobrol dengan bapak, tapi ada yang beda dari biasanya, saya lihat di wajah bapak seperti tidak ada cahaya lagi. Entah cahaya apa itu yang tidak ada lagi, saya tidak bisa menjelaskan.  Saat itu saya cuma berpikir, mungkin bapak terlalu capek setelah puasa sebulan dan tiap malam shalat tarawih di masjid 20 rakaat. Bapak sudah umur 65. Seminggu kemudian saya sudah masuk kuliah lagi di Jogja. Pas hari itu dikabari bapak meninggal karena kecelakaan di jalan.

Setahun kemudian nenek saya (ibunya bapak) meninggal. Sekitar 3 hari sebelum nenek meninggal saya pulang sebentar menengok nenek yang sudah beberapa lama sakit. Hari itu saya juga melihat wajah nenek seperti kehilangan cahaya. Dalam hati saya langsung kuatir, jangan-jangan akhir hidupnya sudah dekat. Dan beberapa hari kemudian, waktu saya pulang dari kampus dikabari nenek meninggal.

Sekitar 3 tahun kemudian, nenek saya dari pihak ibu terjatuh dan tulang pahanya patah. Akhirnya harus pakai kursi roda.  Beberapa bulan kemudian kesehatannya menurun, untuk makan harus dibuatkan makanan yang dihaluskan pakai blender. Suatu hari saya pulang dari Jogja menengok nenek. Saya ajak ngobrol-ngobrol. Waduh, saya lihat wajah nenek seperti kehilangan cahaya. Saya mulai kuatir, jangan-jangan……..

Menjelang jam makan siang, adiknya ibu menghaluskan makanan untuk nenek pakai uleg-uleg. Saya tanya, kenapa gak pakai blender seperti biasanya. Tante saya itu bilang, pagi tadi blenderya gak bisa dipakai. Deg, saya kaget sekali. Saya coba periksa dan bongkar blender itu, sambil menahan jangan sampai air mata saya menitik. Jujur saja, saat itu rasanya mau nangis. Jangan-jangan….

Ya, nenek saya ini yang mengasuh saya dan kembaran saya waktu balita. Kalau pagi bapak ibu saya pergi bekerja mampir dulu ke rumah nenek menitipkan saya dan kembaran saya, siangnya pulang kantor baru dijemput dibawa pulang ke rumah. Kadang-kadang nenek membatik, dan saya senang menunggui sambil tanya-tanya. Saya juga sering ikut nenek pergi belanja ke pasar. Bahkan nonton sirkus pun sama nenek. Sabar sekali nenek saya. Kalau saya nakal, nenek saya cuma tertawa. Setelah saya masukTamanKanak-kanak saya sudah tidak dititipkan lagi.

Kembali ke cerita semula, sekitar seminggu kemudian saya dikabari nenek meninggal. Dan saya tidak kaget lagi karena sudah menduga.

Menurut keterangan guru ngaji saya, 40 hari sebelum seseorang meninggal sudah ada tanda-tandanya, tapi belum tentu setiap orang menyadari tanda-tanda itu. Pada hari itu bagian pusar akan berdenyut-denyut, “daun” di ‘arsy yang tertulis nama kita akan gugur dari pohonnya, dan itulah yang jadisurattugas malaikat maut. Kalau binatang katanya tahu, karena bisa mendengar suara malaikat. (Saya menduga-duga, apakah suara malaikat itu frekuensinya di luar frekuensi yang bisa didengar manusia, alias diluar frekuensi 20Hz-20KHz? Guru ngaji juga bilang, menjelang ajal seseorang bisa melihat malaikat maut. Dan ditambahkan, sesungguhnya 40 hari sebelum ajal seseorang itu sudah bisa dianggap mayat. Tapi dulu saya lupa tidak tanya dasar haditsnya.

Saya jadi ingat cerita petualangan Old Shatterhand di Amerika. Katanya orang Indian juga bisa merasakan saat menjelang akhir hidupnya. Winnetou, kepala suku Apache yang jadi sahabat Old Shatterhand, menjelang akhir hidupnya bisa merasakan ketika ajal sudah dekat.

Kalau di Jawa, saya kenal seseorang yang senang bertapa, sehingga dia bisa memperkirakan hari kematian seseorang kalau diketahui hari lahirnya. Katanya bisa dihitung. Tapi dia tidak tahu umur berapa seseorang akan mati, tapi hanya bisa memperkirakan matinya pada hari Kamis kliwon setelah zhuhur misalnya.

adi mustika. 31 desember 2009

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s