Mananuir, pemimpin tradisional Biak

Di Papua terdapat banyak sekali suku, menurut para ahli terdapat lebih dari 250 bahasa di Papua. Suku Biak yang mendiami pulau Biak dan sekitarnya, adalah salah satu dari suku-suku di Papua.

Menurut cerita, masyarakat Biak awalnya berasal dari satu marga atau lebih populer disebut fam (berasal dari kata family?). Fam yang pertama adalah Rumbiak yang tinggal di sebuah rumah yang mereka bangun di atas bukit Msiren, rumah ini banyak orang tinggal di dalamnya. Kemudian warganya makin bertambah banyak, ada suatu cerita, suatu hari anak-anaknya Manwomri, yang bernama Anenf, Kumeser dan Andoba pergi berburu mendapat seekor babi. Karena tidak ada api untuk memanggang, salah seorang dari mereka pergi ke rumah nenek Inggumi yang punya tiga anak perempuan. Ternyata yang tinggal di rumah itu adalah anak piatu, sehingga rumah itu disebut sebagai fam Rumawak (Rumah orang piatu). Mereka berkumpul memanggang babi ramai-ramai. Sebagian orang-orang itu kebetulan makan teripang dan jadi gatal-gatal sehingga mereka itu disebut fam Makmaker. Kemudian yang lain pergi cerai-berai dan membuat rumah di pinggir laut dan berkembang menjadi fam Masnandifu. Sedangkan mereka yang pergi dan tinggal dibawah dahan pohon Masosen berkembang menjadi fam Masosendifu. Ada juga yang datang ke tempat itu dan menunjuk teripang itu minta makan, mereka ini lalu menjadi fam Wanma. Lalu sebagian orang-orang fam Makmaker pergi membentuk fam sendiri namanya fam Maker. Yang lainnya pulang tetapi tidak ada sesuatu yang bisa dimakan, mereka lau makan buah Kandarek, maka orang-orang ini disebut fam Andarek.

Sedikit berbeda dengan suku-suku Papua lainnya, suku Biak tidak mengisolir diri dengan masuk ke pedalaman, sehingga sejak dulu mereka berhubungan dengan masyarakat lain, seperti dengan kerajaan Ternate, kerajaan Tidore. Dahulu suku Biak menyerahkan upeti kepada raja Ternate atau raja Tidore. Para utusan itu kemudian diberi gelar oleh raja, misalnya gelar kapisa (kapten). Lama-lama gelar itu dipakai untuk memberi nama fam Kapisa.

Kini nama-nama fam bertambah banyak, ada: Arwam, Awek, Baransano,  Bukorpyoper, Dimara, Fakdawer, Inggamer, Inwasef, Kafiar, Kapisa, Kaisiepo, Mampioper, Ronsumbre, Rumaropen, Rumbewas, Rumkorem, dan banyak sekali yang lain. Karena suku Biak merupakan pelaut, maka banyak juga masyarakat Biak tersebar di luar Biak. Di kepulauan Raja Ampat, hampir semua fam orang Biak juga ada di sana.

Masyarakat Biak secara tradisional terorganisir dalam keret atau kampung. Masing-masing keret punya pemimpin yang disebut Mamri, yang merupakan orang paling kuat di keret itu. Ia harus bisa berkelahi, harus bisa mencari ikan, harus bisa melindungi keretnya, dst.
Model kepemimpinan seperti itu tidak diwariskan secara turun-temurun, tapi harus diraih sendiri. Kadang kala kalau ada anak yang tampak menonjol, anak ini akan “dididik” untuk suatu saat bisa menjadi Mamri. Karena pada masa lalu sering terjadi perang antar suku-suku papua, maka seorang Mamri juga adalah panglima perang di keret tersebut.

Seorang Mamri yang perkasa, apabila bisa memimpin perang menguasai keret-keret lain, ia bisa menjadi kepala suku yang disebut Mananuir. Menurut tradisi Biak, seorang yang diangkat oleh tua-tua suku menjadi Mananuir harus memenuhi kriteria: bisa menjadi panglima perang, bisa memimpin rakyatnya, mempunyai (menguasai) tanah ulayat tertentu untuk memberi makan rakyatnya. Jadi ditekankan, Mananuir harus bisa memberi makan rakyatnya.

Seorang Mananuir harus berakhlak, bermoral. Apa yang ia ucapkan harus sesuai, dan tidak dibenarkan menarik kembali apa yang sudah ia ucapkan.  Seorang Mananuir yang menyalahi adat tradisi Biak, menurut kepercayaan mereka, ia akan dimakan tanah.

 

5 Responses to Mananuir, pemimpin tradisional Biak

  1. Mirino junior says:

    kalo bisa mas banyak cari referensi jangan hanya bergantung satu versi aja,,,

    • adimust says:

      kalau menurut saya cerita dari satu versi dishare, lalu kalau anda punya cerita versi lain silakan juga di-share di sini, jadi bisa diskusi

  2. frits wamaer says:

    maaf, sebelumnya saya ucapkan terima kasih, saya senang anda bisa membagikan cerita ini, kalo masih punya waktu ke biak coba cari info ke distrik oridek di kampung wadibu, saba, makmaker, dan kampung lainnya sebab menurut saya awal permulaan dan migrasi orang biak dari daerah ini. ada cerita: pohon aibindo dan pantai pamrakrok. semoga bermanfaat dan sukses!

  3. frits wamaer says:

    maaf, kalo bisa di konfirmasi dulu ceritanya, sehingga tidak salah persepsi.

    • adimust says:

      terima kasih atas masukannya.
      cerita itu berasal dari cerita lisan yg saya dengar sewaktu saya mengunjungi beberapa pulau di Biak. apabila bapak Frits Wamaer ingin meluruskan cerita itu saya akan senang hati menerimanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s