momotaro dan dongeng timun mas

Di jogja ada orang yg pekerjaannya pendongeng, dia adl kak ws (di KTP yg dia tunjukin, tertulis pekerjaan: pendongeng).  Pasti tau kak ws kan, sdh terkenal kok orgnya. Btw, dulu wkt aku msh kecil hobinya didongengi sblm tdr. Tukang dongengnya biasanya bapakku.  Timun mas itu salah satu dongeng yg kusuka, dan menurut perasaanku wkt itu, dongeng itu mengharukan. Timun mas kan lahir dari buah timun, gak punya ortu, jd yatim piatu kan? Trus diasuh oleh nenek2 tua, jadi kasihan sekali gak punya sodara.

Btw, kenal buah timun mas kan? Yah, klo di supermarket biasanya dijual di bagian sayur2an, timunnya lbh gede ketimbang timun biasa.  Wkt kuliah dulu kebetulan diajari tata nama tumbuhan, nah aku coba cari nama latinnya.  Klo timun nama latinnya cucumis sativus (ditulis italic biar langsung tahu klo itu nama latin), klo timun mas mgkn itu varietas (varian) dari cucumis sativus., tp aku blm jelas benar ya, maklum meski lulus mata kuliah tatanama tumbuhan tapi ya msh tetep gak ngerti bhs latin, hehehe…..

Mari kita simak dongeng timun mas yg mengharukan itu:

Pada suatu hari (biasanya dongeng dimulai dg kalimat pembuka: pada suatu hari, syahdan, menurut yg empunya kisah, dikisahkan, dsb.) seorang nenek pencari kayu bakar di hutan menemukan buah timun yg lalu dibawa pulang, sampe di rmh ketika timun dibelah, di dlmnya ada bayi perempuan yg molek.  Lalu bayi itu dirawat dan diberi nama timun mas.

Suatu hari ada buto ijo (buto=raksasa jahat, bentuknya persis manusia berukuran besar, bisa bicara spt manusia) lewat dekat rmh nenek itu dan melihat timun mas sedang bermain, lalu berusaha nangkap timun mas mau dimakan.  Nenek itu berusaha mempertahankan timun mas, lalu berdalih  bhw anak itu msh kecil, enggak bakal kenyang klo dimakan, nanti saja klo sdh bsr bisa kembali lg kesini, katanya.  Buto ijo yg bodo itu bisa dikibuli.

Timun mas makin hari tumbuh, dan jadilah ABG yg cantik. Sang nenek seneng sekali.  Tp pd hari yg enggak diduga, datanglah buto ijo nagih janji. Paniklah si nenek ini. Coba dinego, tp tetep gak berhasil, krn buto ijo ngotot banget.  si nenek itu pasrah, tp minta wkt sebentar krn mau mendandani timun mas biar cantik.  Di dlm rmh timun mas didandani spt org mau bepergian, trus dibekali biji timun, jarum, garam, terasi, dan dibungkus kain  krn dulu blm ada kantong plastic (org desa jaman dulu klo bepergian memang bawa jarum, benang, peniti, garam, buwat jaga2 katanya.  Nah, wkt aku ikut pecinta alam, diajari teknik survival, ternyata juga ada jarum, benang, garam plus korek api di dlm survival kit.  Ternyata org desa jaman dulu sdh kenal survival kit ya, hehehe……).

Kembali ke timun mas, stlh segala sesuatunya siap, timun mas diberitahu oleh nenek, klo nanti dlm pelarian hampir terkejar buto ijo maka lemparkan biji timun mas.  Klo nanti msh terkejar lagi, lemparkan jarum. Klo buto ijo msh ngejar terus, lemparkan garam.  Klo ini juga si buto ijo msh ngejar, lemparkan terasi.  Sudah, hanya itu bekal yg bisa diberikan nenek, take care ya nduk, and good luck, kata nenek.  Mereka bersalaman, lalu timun mas lari lewat pintu belakang.

Buto ijo yg dari tadi nunggu di depan rumah sdh enggak sabar, lalu merangsek ke dlm rumah, digeledah sana sini enggak ketemu lalu keluar dan ngejar timun mas sambil ngamuk2.

Seharian timun mas lari, tp buto ijo hampir bisa menyusul, ketika sdh makin dekat, timun mas nglempar biji timun, seketika tumbuh pohon2 timun yg menjalar2 menghalangi laju buto ijo, timun mas terus lari.  Stlh berjam2 berkutat dg pohon timun, akhirnya buto ijo bisa lepas, lalu neruskan pengejaran.  Ketika buto ijo tampak di belakang timun mas, lalu timun mas nglempar jarum, seketika tumbuh rumpun bamboo yg menjalar2 melilit tubuh buto ijo (stlh kuliah aku baru tahu klo ada pohon bamboo yg menjalar, pertama lihat di hutan nusakambangan).  Berjam2 buto ijo terlilit rumpun bamboo, tp lagi2 bisa lepas juga, dan pengejaran yg menegangkan itu berlanjut.

Stlh buto ijo nyaris bisa ngejar timun mas, lalu dg sigap timun mas nglempar garam, seketika jadi laut.  Buto ijo terapung2 di laut (ternyata org jaman dulu tahu klo di laut yg kadar garamnya tinggi, benda2 bakal terapung, enggak tenggelam.  Mgkn sdh belajar fisika).  Lama juga buto ijo berenang, akhirnya bisa nyebrang juga.  Pengejaran yg menegangkan itu pun berlanjut lagi.  Stlh buto ijo nyaris bisa nangkap timun mas, lalu timun mas nglempar terasi, jadilah kubangan Lumpur.  Kali ini buto ijo enggak bisa lolos dari jebakan lumpur yg setinggi leher buto ijo.  Kejar-mengejar yg menegangkan itupun berakhir dg kemenangan di pihak timun mas.

(ada cabang olah raga atletik yg mirip kejar2an timun mas sama buto ijo ini, dimana si atlet hrs berlari, berenang dan naik sepeda sblm akhirnya sampe finish.  Mgkn inspirasinya dari timun mas, mgkn lho ya….)

Btw, di jepang ternyata juga ada dongeng timun mas lho.  Namanya momotaro.  Mari kita simak dongeng timun mas, eh…momotaro jepang itu:

dahulu kala, hiduplah sepasang kakek-nenek yang enggak punya anak. Ketika nenek sedang nyuci di sungai, sebutir buah persik yang besar sekali datang dihanyutkan air dari hulu sungai. Buah persik itu dibawanya pulang ke rumah untuk dimakan bersama kakek. Dipotongnya buah persik (bhs jepang:momo.  Bhs latin: Prunus persica, adalah tanaman berbuah dari famili Rosaceae. Buah persik memiliki daging berwarna kuning dengan aroma harum dan memiliki satu biji yang keras), tapi dari dalamnya keluar seorang anak laki-laki. Anak itu diberi nama Momotarō (“Tarō” adalah nama yang umum bagi laki-laki di Jepang ), dan dibesarkan kakek dan nenek seperti anak sendiri. Momotarō tumbuh sebagai anak yang kuat dan mengutarakan niatnya untuk membasmi raksasa. Pada waktu itu memang di desa sering muncul para raksasa yang menyusahkan orang-orang desa. Momotarō berangkat membasmi raksasa dengan membawa bekal kue kibidango pemberian nenek.

(kibidango atawa Dango (団子, Dango?) adalah kue Jepang berbentuk bulat seperti bola kecil, dan dimatangkan dengan cara dikukus atau direbus di dalam air. Adonan dango dibuat dari tepung beras yang diulen dengan air atau air panas. Kushidango adalah sebutan untuk sejumlah 3, 4, atau 5 butir dango yang ditusuk menjadi satu dengan tusukan (kushi) dari bambu. Jumlah butiran dango dalam satu tusuk bergantung pada daerahnya di Jepang.  Dango yang rasanya manis dibuat dengan menambahkan gula ke dalam adonan, sedangkan dango yang tidak manis dicelupkan ke dalam saus. Dango juga bisa dimakan dengan taburan bubuk kacang kedelai (kinako), dimasukkan ke dalam mitsumame (agar-agar yang dimakan bersama aneka buah kaleng) atau selai kacang merah yang diencerkan dengan air. Selain dari tepung beras, dango juga bisa dibuat dari tepung terigu atau tepung millet).

Di tengah perjalanan menuju pulau raksasa, Momotarō secara berturut-turut bertemu dengan anjing, monyet, dan burung pegar. Setelah menerima kue dari Momotarō, anjing, monyet, dan burung pegar mau menjadi pengikutnya. Di pulau raksasa, Momotarō bertarung melawan raksasa (oni) dengan dibantu anjing, monyet, dan burung pegar. Momotarō menang dan pulang membawa harta milik raksasa. ***

 

Note:

Penggambaran sosok oni didasarkan pada konsep budaya Tiongkok dan Onmyōdō yang menetapkan mata angin timur laut sebagai arah sial atau kimon (鬼門, kimon?) (“gerbang oni”). Mata angin timur laut berada di antara utara (“kerbau”) dan timur (“harimau”), dan ditulis sebagai ushitora (艮, kerbau-harimau?). Kerbau memiliki tanduk sehingga oni digambarkan bertanduk. Gigi taring dan kuku tajam berasal gambaran sosok harimau, sehingga perlu diperjelas dengan memakai cawat dari kulit harimau. Dalam cerita rakyat, Momotaro membasmi oni dengan bantuan monyet, burung pegar (ayam), dan anjing. Semuanya adalah nama hewan yang dijadikan nama mata angin yang berlawanan dengan arah timur laut.

Shuten Dōji adalah oni yang kabarnya tinggal di Provinsi Tamba. Ia juga digambarkan memiliki tanduk dengan rambut merah di kepala yang tumbuh menjadi satu dengan kumis, janggut, cambang, dan alis. Tangan dan kakinya seperti tangan dan kaki beruang. Walaupun demikian, orang mulanya tidak tahu sosok oni yang sebenarnya. Pada mulanya, oni adalah sosok yang tidak terlihat, dan berasal dari kata “onu” (隠, “onu”? menyembunyikan). Ia kadang-kadang digambarkan sebagai pria tampan atau wanita cantik yang suka memangsa laki-laki atau perempuan muda yang sedang diingininya. Gambaran tentang oni  yang sekarang diketahui orang diperkirakan bercampur dengan sosok raksasa.

Oni dalam cerita rakyat sering digambarkan berkulit merah dengan rambut pirang atau coklat tua. Sosok oni diperkirakan berasal dari penampilan bajak laut yang datang dari perairan sekitar Rusia. Kulit mereka yang putih menjadi merah setelah terbakar matahari. Penduduk setempat yang belum pernah melihat orang asing mengira mereka adalah oni.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s