the malinkundang

karena kepala batu makanya jadi batu

alkisah, malinkundang adalah saudagar kaya dari minangkabau. awalnya ia merantau karena kasihan dengan ibunya yang banting tulang mencari nafkah untuk membesarkan dirinya. setelah sukses di perantauan ia kemudian punya isteri, dan suatu hari kapalnya bersandar di pelabuhan minang. ibunya menjemput, tapi demi dilihat kemiskinan ibunya, entah apa yang terjadi, ia tidak mau mengakui perempuan itu sebagai ibunya. setelah ibunya membujuk tapi tetap tidak digubris, hilang kesabaran ibunya, dikutuklah si malinkundang. maka ketika kapal si malinkundang berlayar lagi terjadilah badai, kapal karam, dan si malinkundang terkutuk menjadi batu. benarkah? temtu itu cuma dongeng. tapi apa motif dongeng itu?

minangkabau menganut budaya matrilineal, berbeda dengan kebanyakan suku-suku lain di nusantara. dalam budaya itu anak laki-laki tidak punya kamar, mereka tidur di surau. bahkan harta pusaka pun anak laki-laki tidak punya hak. (buya syafi’i ma’arif yang lahir di sumpur kudus, dekat sawah lunto, pernah cerita beliau dulu tidurnya di surau, dan tak sepotong warisan pun ia terima, bahkan gelas piring pun tidak). menurut cerita pak sutan mudo, yang waktu itu mobilnya saya sewa dan pernah mentraktir saya di rumah makan padang ampera di bukittinggi, dia bilang harta di rumahnya semua milik istri. menurutnya, kalau saya yang orang jawa menikah dengan orang minang artinya beruntung, karena laki-laki jawa dapat warisan lebih banyak ketimbang perempuan jawa, dan perempuan minang diwarisi harta keluarga, jadi akan punya modal banyak. sebaliknya, kalau perempuan jawa dapat laki-laki minang artinya sial, karena laki-laki minang tidak punya hak harta pusaka dan perempuan jawa diwarisi harta lebih kecil ketimbang laki-laki jawa. hm….mungkin itu gurauan saja.

tapi mungkin background itu mendorong laki-laki minang merantau. banyak yang kemudian sukses. mereka yang sukses itu jarang yang kemudian membesarkan usaha di tanah kelahirannya. akibatnya tanah minang tetap tertinggal jauh dari tanah jawa. ketimpangan dan budaya yang berbeda, matrilineal vs patrilineal, bisa jadi membayangi benak sebagian orang minang. kita juga ingat konflik kaum tua dengan kaum muda minang pada masa lampau, yang bisa kita baca dari sejarah.

mungkin dongeng malinkundang itu adalah gambaran kegalauan dalam hati sebagian orang minang. betapa malinkundang digambarkan tidak punya hati, dan si ibu jadi begitu dendam pada kekurangajaran anaknya, sehingga dikutuklah jadi batu. padahal di taman kanak-kanak dulu kita diajari lagu: “kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa, hanya memberi tak harap kembali, bagai sang surya menyinari dunia”. tapi dalam dongeng malinkundang itu “sang surya” menjadi murka, dan tidak mau lagi “menyinari dunia”, akhirnya malinkundang menjadi batu yang tidak memerlukan lagi sinar dari sang surya untuk berfotosintesis.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s