the story of kabupaten ambal

Ambal- Kebumen dulu pernah menjadi pusat pemerintahan kabupaten. Ceritanya begini:  Pada masa perang Diponegoro, Ambal dan pantai pesisir selatan, yang dikenal dengan Urut Sewu, dikuasai berandalan kejam dan  menakutkan bernama Puja atau Gamawijaya.  Dia sangat terkenal hingga warga mulai dari Karangbolong hingga Kesultanan Yogyakarta mendengar namanya.

Untuk menumpasnya pemerintah kolonial Belanda mengadakan sayembara yang isinya: barang siapa yang mampu menangkap Puja akan mendapat hadiah besar. Ternyata tidak ada yang berani mengikuti sayembara itu.

Pada zaman perang Diponegoro itu, Semedi, putra dari selir Hamengku Buwono III, mengungsi ke Kedu. Pangkatnya naik dari ordenans menjadi kolektur di Kebumen dengan nama Raden Ngabehi Mangunprawira.  Dia pemberani, dan berniat mengikuti sayembara itu. Dia kemudian berbicara dengan Lurah Desa Sijeruk, Wargantaka dan putranya Andaga.  Wargantaka dan Puja adalah saudara seperguruan. Mereka sama-sama berguru pada Gamawikangka.

Berkat kerjasama itu, rahasia kekuatan dan kelemahan Puja akhirnya bisa diketahui Mangunprawira. Wargantaka mendukung Mangunprawira menumpas penjahat tersebut. Puja pun terbunuh. Mangunprawira dipromosikan menjadi Bupati Ambal seumur hidup, dengan nama K.R.A.H. Poerbanagara.  Pada masa itu moyang saya diangkat menjadi Penghulu Kabupaten Ambal, namanya KH Yahya. Beliau adalah salah satu keturuan Brawijaya V.

Kabupaten Ambal hanya berlangsung 44 tahun dari tahun 1828 – 1872.   Setelah itu kabupaten Ambal dihapus dan dimasukkan ke dalam kabupaten Kebumen. Peninggalan pendopo kabupaten Ambal kemudian menjadi milik pribadi. Pada sekitar tahun 1940-an, kakek saya membeli bekas pendopo itu dengan cara dicicil dari gaji sebagai kepala sekolah SR (Sekolah Rakjat). Kemudian pada jaman perang kemerdekaan, sebagian rumah kakek saya itu dijadikan markas pejuang. Akibatnya bekas pendopo kabupaten itu dibom Belanda.

Untuk menghindari dijadikan sasaran lagi maka masyarakat beramai-ramai membongkar pendopo itu. Tumpukan kayu jati bekas pendopo itu menumpuk di samping rumah utama yang tidak ikut dibongkar. Tapi ada sedikit masalah ketika membongkar pendopo itu, 4 soko guru (tiang utama) pendopo tidak bisa dibongkar, bahkan ketika hendak digotong ramai-ramai tidak ada yang kuat. Kemudian nenek saya memerintahkan membuat “sego rosulan”, semacam selamatan bersih desa. Setelah selamatan itu, 4 soko guru dicoba digotong beramai-ramai, tapi tiba-tiba keempat soko guru yang masih tegak berdiri itu melompat pindah ke samping rumah utama. Dan di tempat itu soko guru itu dengan mudah dibongkar seperti pilar-pilar yang lain. Dan setelah itu, mata kakek saya tiba-tiba menjadi buta. Dan sekarang bekas pendopo kabupaten Ambal sudah tidak ada bekasnya lagi.

Sate Ambal

Di daerah Ambal juga dikenal sate yang unik dan enak. Sate ini dibuat dengan cara, pertama-tama potongan daging yang akan dibuat sate direndam dulu dalam bumbu yang dibuat dari 9 macam rempah-rempah dan gula jawa (gula merah), kemudian baru dibakar, dan setelah matang warnanya tetap coklat muda, tidak menjadi hitam. Bumbunya pun sedikit berbeda, bumbu kacangnya dicampur dengan tempe mondhol (tempe yang belum jadi).

Sate Ambal ini, menurut cerita, pertama kali diciptakan oleh Bupati Ambal, K.R.A.H. Poerbanagara, melalui juru masaknya.

adi mustika. 27 desember 2010

Related topic:

trah

ziarah to our ancestor

25 Responses to the story of kabupaten ambal

  1. yusuf - Jakarta says:

    Mbah Glondong Satar masih ada hubungan famili dengan keluarga besar Mbah Mulyosentiko, apalagi Mbah Putri Glondong Satar sangat dekat dengan Keluarga Mbah Guru Tjokro Wiharjo,
    Wong Ambal memang hebat menjaga tradisi dan Silsilah.

  2. masskur says:

    Salam, Saya orang Ambal, desa Lajer tepatnya. Kalo leluhur saya termasuk pendiri yang buka desa Lajer trus keatasnya katanya pengembara dari Mataram yang belum ketemu silsilahnya.

    Mungkin karena kisah berandalan kejam dan menakutkan bernama Puja atau Gamawijaya inilah Ambal (plus Mirit) jadi terkenal daerah “hitam” .

  3. Saya setuju dgn komenx mas mamet krn kita memang saudara sepupu,mnt tlg dong..kirimkan silsilah brawijaya 5 karena kami keturunan trah glondong satar…trmksh sblmx jk ad yg bs membantu…

  4. ratih handayani says:

    Saya tau ambal,minimal satu tahun sekali saya mengunjungi tempat dmn nenek moyangku berasal kami jg nyekar ke makam Kranji dimn disitu ada makam beberapa sanak saudara,ayahku org ambal…glondong satar adl trah dr keluarga kami…,love u ambal resmi…

  5. sofia purbo says:

    Saya blm pernah ke Ambal, tapi bapak sy alm. sering bercerita tentang Ambal krn kami keturunan eyang Purbonegoro. Dimanakah letak makam eyang Purbonegoro? Mungkin suatu saat kami ziarah ke sana.

    • ana candramaya says:

      Halo salam kenal..saya jg keturunan eyang purbonegoro..dulu wktu msh TK pernah ke makam eyang..tapi lupa jalannya..yg jlas ada di benerwetan,ambal..kebumen

    • ana candramaya says:

      Mas punya silsilah dan foto bupati ambal sampai anak cucunya? Boleh dipost ya mas kl ada..Saya msh keturunan beliau tapi belum bisa berkunjung ke makam eyang..saya cari silsilah beliau di trahnya Hamengku Buwono III waktu ke kraton jogja kok ngga ada nama semedi sbg putra HB III ya?

  6. mamet says:

    Terima kasih sudah menulis tentang kabupaten ambal… kebetulan leluhur saya juga orang ambal, saya masih keturunan Mbah Glondong Satar, kemungkinan… mbah buyut saudara kenal.. saya ingin tahu silsilah raja Brawijay V, bila anda punya silsilahnya… saya sangat berterima kasih bila anda bisa mengemail atau memberikan informasi ke saya, terima kasih…

  7. uung says:

    minta silsilah keturunan adipati ambal katanya ada yg hidup dan tinggal di banjarnegara, apa mas tau karena mendiang eyang buyut saya pernah cerita klu bapak beliau mantri msh keturunan adipati ambal kebumen.

  8. jepe says:

    Tulisan yang bagus. Ambalresmi yang tersohor di Kedu Selatan dengan daerah “hitamnya” sudah berubah menjadi tempat yang pantas di kunjungi. Minimal mencicipi sate ambalnya, pacuan kuda setiap lebaran dan sekali tempo nengok pantainya. Bagi yang masih punya leluhur disana, barngkali masih punya makam nenek-moyang di “Stono Kalijo” atau “Stono Kranji”. Tahun 1972 – 1977 saya juga pernah menjadi murid SD Negeri Ambalresmi. Pak Rusman adalah kepala sekolah waktu itu. Adapun sisa peninggalan pendopo Kadipaten Ambal waktu jaman saya sekolah adalah tempat yang sangat angker. Ndoro Gondo adalah penghuni pada waktu itu. Saya juga tidak tahu siapa beliau. Mbak Kasiah juru kunci saya kenal baik, bahkan kami masih ada hubungan saudara. Konon ceritanya di rumahnya “Ndoro Gondo” masih ada peninggalan dipan, kursi, meja dan risban yang dulu dipakai oleh Pangeran Diponegora jika melintas ke daerah Ambal. Sebelah timur pendopo juga bisa kira jumpai rumah kuno yang cukup asri dengan halaman luas milik “Ndoro Kus”. Persisnya di sebelah barat laut tugu Ambal.

  9. teeane cemplux says:

    Saya jg orang ambalresmi

  10. amin budi utomo says:

    Mas, punya sil-silah keluarga Raden Brawijaya V?
    hingga sampai ke Ambal… sy pengin tahu urutane. Karena masih Saudara..mungkin bisa jelaskan kebingungan saya.

  11. Dwi Cahyono says:

    Siapa tau ada yg tau cerita ini.
    Saya punya cerita ada 2 anak laki2 namanya Abu dan Umar,anak ini mengaku berasal dari Ambal Kebumen, setelah 50 th anak ini ingin mengetahui tanah tempat kelahiran-nya.
    Anak yg namamya Umar sdh meninggal pada usia 60th pada thn 1982.

  12. Ongky Sasongko says:

    mas leluhur saya juga dari ambalresmi di daerah pasar senen sebagai lurah pasar senen namanya kami tak ingat tapi bapak mbak Lurah itu adalah KH.Sangit..mohon info ttg para Kyai atau tokoh di ambalresmi mas…o ya makam para leluhur saya itu di makam kalijo..matur nuwun sekali..

  13. amen says:

    ambal ndi rika?aku jogoresmen..

  14. slagenov says:

    Mas mau nanya letak bekas pendopo kabupatennya disebelah mana, yang saya tahu dulu bekas kediamannya nDoro Gondo, apa itu yang dimaksud? Atau sebelah utara Masjid Kauman sejajar dengan kediaman nDoro Gondo yang terdapat pohon pisang kipas, karena dulu sekitar tahun 1960 ada seperti bangunan penting.

    • adimust says:

      letaknya bekas pendopo saya agak lupa, seingat saya sdh gak ada bekasnya, jadi rumah biasa dengan pekarangan agak luas di utara sawah. coba kapan2 kalau ada kesempatan saya mau ajak ibu saya atau om saya utk menunjukkan letaknya. bekas pendopo itu sdh berpindah kepemilikan sebelum tahun 1960, dan ibu saya dan om-om saya tinggal di kebumen utk meneruskan sekolah

  15. Kang adi saya lare ambal, saya senang mendapatkan informasi tentang ambal… dan salam kenal, saya juga minta ijin untuk copas artikel ini diblog saya agusbocahnakal.wordpress.com

  16. pramono says:

    saya orang ambal tapi sedikit sekali yang bisa membahas asal muasal kabupaten ambal secara detail…blog ini membagi informasi tentang hal ini alangkah indah jika kita bisa nguri uri ambalmenjali kota lama cikal bakal kabupaten kebumen……

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s