Ayat-ayat Semesta

Resensi Buku


Judul : Ayat-ayat Semesta

Penulis : Agus Purwanto

Pada 1989 terbit novel ayat-ayat setan (the satanic verses) yg fenomenal dan menyulut protes umat muslim kala itu. Salman rushdi, penulis novel itu, bahkan hrs sembunyi dari public karena ayatollah Khomeini memfatwakan hukuman mati buat dia. Ayat-ayat setan dianggap melecehkan ayat-ayat allah yg ada di alqur’an.

Pada 2005 terbit novel ayat-ayat cinta, yg sebelumnya dimuat sebagai cerita bersambung di Koran republika. Novel ini dianggap sebagai bagian dari pembumian ayat-ayat tuhan. Habiburrahman el-shirazy, penulis novel yang fenomenal itu, lalu menjadi selebriti. Lalu novel itu difilmkan dan terbit pada 2008.

Pada 2008 terbit buku bertitel Ayat-ayat Semesta. Penulisnya Agus Purwanto, D.Sc. (Doctor of Science). Seorang ahli fisika teori. Buku ini bukan novel. Penulisnya ingin mengungkap sisi-sisi al qur’an yg terlupakan.
Terlupakan? Mungkin iya, kita umat muslim sering melupakan, sehingga bahkan kita menjadi tidak tahu. Kita terlalu menekankan pada praktek formal syariat, bahkan kadang terlalu bersemangat (biar kelihatan paling saleh dan paling benar di dunia), padahal pemahaman agamanya masih cupet. Jadinya, ya…hanya permukaan saja.

Di buku ayat-ayat semesta, penulisnya mencoba menafsirkan ayat-ayat kauniyah al qur’an dari perspektif sains modern. Dalam buku itu dibuat klasifikasi subjek dari isi al qur’an, lalu ada klasifikasi surah, lalu klasifikasi ayat.
Diskusi dimulai dengan topik islamisasi sains. Dicontohkan perbedaan Einstein vs salam. Kalau Einstein dapat inspirasi dari fakta empiris yang lalu melahirkan gagasan unifikasi interaksi elektromagnetik dan interaksi gravitasi (gagasan ini dikenal sbg Einstein’s dream), sedangkan abdus salam, ahli fisika teoritis dari Pakistan, juga mempunyai keyakinan sama dengan Einstein, tapi enggak menyandarkan pada fakta empiris, melainkan pada tauhid.

Penulis buku ini juga mencontohkan mekanika kuantum asy’ariyah. Hmm….asy’ariyah? Bukankah asy’ariyah selama ini dikenal sebagai aliran teologi mayoritas kaum sunni? Sebuah aliran teologi yang dianggep sesat oleh pengikut Muhammad bin abdul -wahhab (wahabi, salafi, dan yang sebangsanya), tapi anehnya, ibnu hajar dan imam nawawi, ulama besar penganut asy’ariyah, enggak dianggep sesat oleh mereka, aneh binti ajaib.
Lho, kok nyinggung-nyinggung teologi? Iya memang, karena didasari dari teologi asy’ariyah itu kemudian muncul teori atom yang mempunyai kesamaan dengan fisika kuantum. Cuplikan critanya begini:

Tuhan memiliki banyak nama, atribut, dan sifat. Setiap aliran teologi tumbuh dan berkembang atas dasar penerimaan pada satu sifat dominant. Teologi asy’ariyah bertumpu pada atau bertitik tolak dari penerimaan tindakan sewenang-wenang tuhan. Menurut asy’ari, dorongan hebat di balik tindakan tuhan adalah “apa yg diinginkan-Nya” dan “karena kehendak-Nya” (qudrat iradat – pen).
Penerapan prinsip “karena kehendakNya” pada aktivitas tuhan di alam melahirkan gagasan occasionalism yang didefinisikan sebagai kepercayaan akan kemahakuasaan tuhan dalam kesendirianNya. Tuhan terlibat langsung dalam penyelenggaraan alam semesta, dan keterlibatan langsungnya pada peristiwa-peristiwa di alam semesta dipandang sebagai manifestasi lahirian kesempatanNya (occasion). Implikasi occasionalism ini adalah segala sesuatu dan segala peristiwa di alam semesta secara substansial bersifat terputus-putus dan saling bebas. Tidak ada kaitan antara satu peristiwa dan peristiwa lain kecuali melalui kehendak ilahi. Di dalam perspektif kesewenang-wenangan tuhan ini, jika peristiwa A terkait atau berhubungan dengan peristiwa B, hubungan ini tidsk terjadi secara alamiah tapi karena tuhan menghendaki demikian. Dengan demikian occasionalism menyangkal kausalitas atau hukum sebab-akibat.

Atomisme asy’ariyah dapat dipandang sebagai deskripsi kalamnya dalam elemen-elemen penyusun dunia ciptaan atau alam semesta, dan merupakan konsekuensi langsung dari prinsip keterputusan substansial segala sesuatu. Alam didefinisikan sebagai segala sesuatu selain tuhan dan terdiri dari dua unsur yang berbeda, atom dan aksiden. Sebagaimana atomisme Democritus, atom dipostulatkan sebagai al-juz’ alladzi yatajazza’, bagian yang tidak dapat dibagi. Partikel-partikel ini merupakan satuan paling fundamental yang dapat eksis dan darinya seluruh alam dibangun.
Ada tiga karakteristik atomisme dari al-baqillani yang mampu menjadi penyangga metafisika teologi asy’ariyah.
Pertama: atom-atom tidak mempunyai ukuran atau besar, dan homogen. Artinya, atom merupakan dimensionless entities, yakni tanpa panjang, tinggi dan lebar tetapi terpadu membentuk benda yang mempunyai dimensi. Atom-atom ini berbeda dari atom-atom Leucippus dan Democritus yang memiliki besar.
Kedua: jumlah atom tertentu, atau berhingga (finite). Di sini asy’ariyah menolak infiniteness dari semua mazhab atomis yunani dengan basis argumentasi scriptural yang jelas, yakni :
QS 72:28 :

supaya dia mengetahui, sesungguhnya rasul-rasul itu telah menyampaikan risalah tuhannya, sedang ilmuNya meliputi apa yang ada pada mereka, dan Dia menghitung segala sesuatu satu persatu.”

Segala sesuatu terhitung, dan sesuatu yang terhitung adalah tertentu, berhingga.

Ketiga: atom-atom dapat musnah atau lenyap secara fitrah, atom tidak dapat bertahan untuk dua saat. Al-baqillani mendefinisikan aksiden (‘aradh) sebagai sesuatu yang tidak bertahan lama dengan basis scriptural QS 8: 67

“kamu menghendaki hal-hal duniawi (‘aradh) sedangkan allah menghendaki akhirat untukmu.”
Akhirat kekal, bertahan lama, sedangkan ‘aradh sebentar dan pasti musnah seperti ditegaskan dlm QS 46: 25

“yang menghancurkan segala sesuatu dengan perintah tuhannya, maka jadilah mereka tidak ada yang kelihatan lagi kecuali tempat tinggal mereka. Demikianlah Kami memberi balasan kepada kaum yang berdosa.”

Pada setiap momen, waktu atom mewujud dan melewati ekstensi, durasi setiap atom (baqa’) adl sekejap. Atom-atom tercipta, musnah, tercipta lagi, musnah lagi, dst. Eksistensinya yang sesaat ini dimungkinkan melalui keterlibatan tuhan secara terus-menerus, mencipta, memusnahkan, mencipta, memusnahkan, sampai tuhan ingin berhenti.
Alam semesta yang tampak ini dalam perspektif atomisme asy’ariyah dijelaskan sbb: alam tersusun dari atom-atom dan aksiden-aksiden serta mengalami penciptaan, penghancuran, dan pemusnahan yang terus-menerus. Ketika tuhan menciptakan atom suatu benda, Dia juga menciptakan di dalamnya aksiden-aksiden yang membuat atom itu wujud. Saat atom-atom itu lenyap, tuhan menggantinya dg atom-atom dan aksiden-aksiden yang jenisnya sama, selama tuhan menginginkan benda yang sama tetap ada. Jika tuhan tidak menginginkannya maka tuhan tidak akan mencipta lagi aksiden-aksiden yang dimaksud.

Dalam perspektif ini semua perubahan dalam skala makro termasuk juga mukjizat, merupakan akibat proses atomic yang secara langsung dihasilkan oleh aktivitas ilahi. Jika tuhan menginginkan suatu mukjizat terjadi, misalnya transformasi dari tongkat menjadi ular dalam sekejap, maka tuhan akan menghentikan penciptaan atom-atom dan aksiden-aksiden yang membentuk tongkat, dan secara serentak menggantikannya dengan atom-atom dan aksiden-aksiden yang membentuk ular.
Atomisme asy’ariyah di depan memberi implikasi-implikasi sbb.:

Pertama: pada tingkat atomic, kita tidak dapat berbicara tentang perpindahan atom yang sama dari satu titik ke titik yang lain. Kita harus berbicara pemusnahan di titik semula, penciptaan kembali pada titik kedua, dan hilang diantara keduanya. Dengan demikian, eksistensi ruang hampa atau ketiadaan dipertegas, tetapi kita tidak mempunyai konsep jarak Newtonian.

Kedua: alam semesta merupakan wilayah keterpisahan (discontinue) dengan entitas yang saling bebas atau tidak saling mempengaruhi. Artinya, tdk ada kausalitas antara satu momen eksistensi dan momen selanjutnya. Menurut asy’ariyah, keseragaman urutan peristiwa alamiah hanyalah penampakan dan tidak nyata dalam artian tidak memiliki eksistensi objektif. “sebab-akibat” itu tidak lebih dari sekedar konstruksi mental atau kebiasaan dalam pikiran manusia.

Hal yang perlu digarisbawahi dari atomisme asy’ariyah adalah:
Pertama: gagasan ini murni dibangun atas dasar fondasi wahyu.
Kedua: mempunyai kesamaan dengan teori atom modern. Konsekuensi penting dari kenyataan kedua ini adalah menguji kembali asumsi-asumsi yang mendasari pandangan epistemology dan metodologi ilmiah yang diterima saat ini. Atomisme asy’ariyah menyiratkan adanya kemungkinan cara lain dalam memandang dan memahami alam, yang berbeda dari metode yang digunakan dalam sains modern, tetapi berhasil merumuskan teori atom yang mempunyai kesamaan dengan fisika kuantum.[]

Dalam buku ini juga disinggung kekurangaan penerjemahan al qur’an bahasa indonesia, misalnya QS 27:18

“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”

Menurut penulis buku ini, “qaalat namlatun” mestinya terjemahan minimumnya adalah “telah berkata seekor semut betina”, bukan hanya “berkatalah seekor semut” tanpa kata betina.
Nah, karena di ayat itu sang semut betina memerintahkan: hai semut-semut, masuklah ke dalam sarangmu……. Maka artinya sang semut betina itu adalah pemimpin semut. Jadi terjemahan yang pas adalah:
“Hingga apabila mereka sampai di lembah semut berkatalah sang Ratu semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari”

Terjemahan ini menyatakan bahwa pemimpin komunitas semut adalah ratu. Ternyata biologi membenarkan, bahwa pemimpin komunitas semut adalah semut betina, ratu.

Tertarik untuk menggali isi al qur’an lebih lanjut? Penulis buku ini mengajak pembaca memahami al qur’an bukan sekedar memahami secara harfiah saja. Pembaca diajak membahas astronomi, relativitas dan kosmologi, mekanika kuantum, transendensi, dari perspektif wahyu.

Buku ini menarik untuk dibaca, tapi perlu juga kritis dalam membacanya.  Ada beberapa pemaparan yg menurut saya perlu penjelasan lebih lanjut.

adi mustika.  mei 2009.

3 Responses to Ayat-ayat Semesta

  1. Okeng Hadi says:

    mbaca kutipan dan tulisan ini, pardi mung mrenges.
    mohon maaf salam kenal, sy sdg searching cari2 yg punya buku “Pardi Prenges”, alhamdullillah melalui anda sy bisa meng copy bacaan sy yang waktu kecil
    trima kasih

    • adimust says:

      salam kenal juga.
      iya, saya punya buku pardi prenges peninggalan bapak saya. beberapa buku cerita berbahasa jawa juga masih punya, seperti gerombolan nomer 13, kumpule balung pisah. tampaknya anda penggemar cerita berbahasa jawa juga ya? saya punya blog cerita berbahasa jawa, silakan klik:
      http://wacanjawa.wordpress.com/

  2. Nurul Hidayatun says:

    Jadi ingat….jaman dahulu ada temen anak Fisika (namanya lupa…?) yang ingin menulis tentang filsafat untuk skripsinya….
    Ada satu hal yang patut diteladani oleh para ilmuwan itu adalah kejujurannya dalam mencari….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s