Membaca Sejarah Nusantara

Judul buku  : Membaca Sejarah Nusantara
Penulis       : Abdurrahman Wahid
Pengantar   : KH A Mustofa Bisri
Penerbit      : LKIS, Yogyakarta
Cetakan     : Pertama, 2011
Tebal buku  : 133 halaman

berikut kata pengantar buku ini oleh Gus Mus:

Kolom-kolom mantan Presiden

by KHA Mustofa Bisri

Enaknya orang yang memiliki kemampuan dan kelebihan, sekaligus sikap percaya diri, i’timad ‘ala an-nafs, antara lain: dia bisa dengan mudah mendapat kedudukan tanpa harus ‘menyayangi’ (merasa eman terhadap) kedudukan itu, seberapa pun tingginya. Sehingga bila harus meninggalkan kedudukannya, ia tidak terlarut olehnya, apalagi sampai terkena sindrom.  Berbeda dengan mereka yang hanya mengandalkan ‘pulung’ dan atau rekayasa penjilatan dalam mendapatkan kedudukan.

Gus Dur, KH Abdurrahman Wahid, mantan Presiden RI ke-4, adalah salah seorang yang memiliki kemampuan dan kelebihan, sekaligus sikap i’timad ‘ala an-nafs (bahkan ada yang enilai sikap i’timad ‘ala an-nafs-nyaberlebi). MAKA KETIKA MENDAPAt kedudukan – tidak tanggung-tanggung – sebagai presiden, dia tidak tampak kegirangan (tidak seperti sementara orang yang diangkat menjadi menteri saja sudah emngadakan tasyakuran besar-besaran), dan ketika dipaksa lengser pun tidak tampak tergoncang seperti yang mungkin diperkirakan orang sebelumnya. Dengan kemampuan, kelebihan, dan kepercayaan dirinya, tokoh paling kontroversial ini, meneruskan perjalanannya seperti biasa. Kegemarannya berkeliling memenuhi undangan umatnya, bersilaturahmi kepada kawan-kawannya, dan menerima tamu siapa saja yang memerlukannya, masih dan justru lebih dahysat volumenya, karena kesempatannya memang jauhlebih longgar.  demikian pula dengan kebiasaannya menuangkan renungan-renungannya. (Boleh jadi karena inilah, banyak orang dekatnya, terutama yang ketika ia menjadi presiden merasa kehilangan, kini justru menemukannya kembali).

Seingat saya, begitu lengser Gus Dur langsung kembali meneruskan kebiasaannya: muter-muter, bersilaturahmi ke sana ke mari. tidak sampai tiga bulan setelah lengser, kolom-kolomnya kembali muncul begitu deras. Dalam jangka waktu – enam belas bulan, September 2001 s/d 10 Maret 2002 – tidak kurang dari 54 artikel, dalam berbagai tema, telah ditulisnya.  Lima puluh empat artikel yang ditulis dalam era lengser itu, ditambah satu artikel ketika masih menjabat presiden, kemudian dikumpulkan dan jadilah buku ini.

Ketika saya diminta oleh Gus Dur sendiri untuk menulis pengantar bukunya ini, secara kelakar hati kecil saya nyeletuk: Ini trik apa lagi?  Soalnya, siapa atau apa yang harus saya antar?  Apakah perlu Gus Dur diantar? Atau apa perlu mengantar Anda kepada Gus Dur? Gus Dur sudah tahu mau ke mana, sudah tahu apa yang akan diberikan atau diminta kepada dan dari siapa, sudah tahu harus ‘naik apa’ dan lewat mana. Sementara Anda sendiri sudah tahu siapa Gus Dur, tahu di mana menemuinya dan kapan.  Tiba-tiba saya teringat pengalaman ketika dulu di Kairo. Dalam sebuah diskusi, setelah Gus Dur bicara, ada seorang kawan yang angkat bicara menanggapinya. Kawan ini mengatakan bahwa dia sangat sependapat dengan apa yang dikatakan Gus Du. namun ketika dia mencoba menjelaskan kembali apa yang dia setujui itu, ternyata apa yang dikatakannya jauh bertolak belakang dari apa yang dimaksud dan dikatakan Gus Dur. Tentu saja mereka yang memahami, jadi kasihan kepada Gus Dur. Saya pun mula-mula khawatir jangan-jangan saya, seperti kawan saya itu, niat hati mengantar alih-alih malah menyesatkan. Namun karena tulisan Gus Dur relatif lebih gamblang ketimbang ucapannya, mengantarnya pun tidak perlu repot-repot.

Dari tiga bagian kumpulan kolomnya ini (dalam buku versi sebelumnya, red.), mungkin yang paling menarik adalah Bagian Pertama (yang sekarang menjadi versi baru ini, red.) di mana Gus Dur melihat sejarah masa lalu, melaluikaca matanya yang jeli, kritis, unik, dan nekat, sehingga, seperti biasa, kemungkinan besar orang akan terkaget-kaget atau setidaknya tergelitik membaca tafsir dan spekulasinya terhadap suatu peristiwa sejarah. Sesuatu yang selama ini mungkin sudah umum dipercaya sebagai ‘kebenaran sejarah’, tiba-tiba digoyangnya sedemikian rupa sehingga mau tidak mau orang pun tergelitik untuk melakukan peninjauan ulang.

Sejarah – barang kali sebagaimana juga sosok Gus Dur – agaknya memang tak pernah dapat lepas dari kontroversi. Apa lagi sejarah yang sudah lama berlalu, ia begitu terbuka terhadap berbagai versi tafsiran yang memang tidak bisa dihindari. Ambil contoh misalnya, Walisongo yang dalam sejarah disebut sebagai para pemimpin dan da’i yang mengisalmkan Tanah Jawa. Bukan saja orang berbeda pendapat mengenai asal-usul sebutan Walisanga itu (ada yang berpendapat ‘sanga’ berasal dari bahasa Jawa ‘songo’ yang berarti sembilan; ada yang berpendapat berasal dari kata ‘sana’ yang berarti tempat atau daerah; dan ada pula yang berpendapat berasal dari kata Arab ‘tsanaa’yang berarti pujian mulia), tapi juga berbeda mengenai pengertiannya. Ada yang emngatakan bahwa jumlah wali itu memang sembilan (dan sembilan ini penulis sejarah pun berbeda mengenai siapa-siapa orangnya dan masa hidupnya). Ada yang mengatakan jumlahnya banyak secara berganti-ganti (model wali abdal); dan ada pula yang mengatakan bahwaWalisanga itu semacam lembaga di mana di setiap wilayah ada pejabat walinya. Belum lagi perbedaan tentang dari mana – sebagian – para wali itu berasal, Arab, samarqand (Uzbekistan), China, Sumatra, atau Jawa. Bahkan ada seorang penulis sejarah Tanah Jawa yang mengatakan bahwa dalam kitab Walisanga, wali-wali yang dikatakan sebagai Walisanga itu hanya ada delapan, selain yang delapan itu disebut Wali Nukba (nuqabaa?). Anehnya, dalam kitab yang katanya dikarang oleh Sunan Giri II itu disebutkan – dalam langgam Asmaradana – nama-nama Wali Nukba yang memasukkan juga nama-nama: Ki Ageng Kenanga, Juru Mertani, dan Sultan Agung (1613-1645).

Contoh lain yang dalam buku Gus Dur ini juga dibicarakan adalah sejarah Raden Wijaya yang menurut Ensiklopedi Indonesia (EI) hidup di abad ke-13 (1294-1309), sementara sumber yang lain menyebutkan tahun 1441-1451. Raja yang disebut-sebut sebagai Brawijaya I, pendiri Majapahit (disebut juga Kertawijaya dan diBabad Tanah Jawi disebut Raden Sesuruh) ini, umum disebut-sebut sebagai Raja Hindu-Budha yang hidup sebelum masa Walisanga. Namun, ada ‘cerita tutur’ (istilahnya Gus Dur) yang menyebutkan bahwa raja ini pernah didakwahi oleh Sunan Ampel atau Raden Rahmat yang menurut EI wafat 1481 atau menurut sumber lain sekitar tahun 1457 putera Malik Ibrahim al-Maghribi yang wafat tahun 1419 (Maulana Malik Ibrahim dan Brawijaya I adalah sama-sama menantu Prabu Kiyan, Raja Campa, yang berarti Sunan Ampel keponakan pendiri Majapahit itu sendiri), seperti ditulis KH Bisri Mustafa dalam Tarikh Auliyaa-nya.Jadi, tidak terlalu ngoyo woro, meski terkesan aneh, bila Gus Dur dalam tulisannya membuat spekulasi, ada kemungkinan Raden Wijaya itu muslim dan keturunan Cina ber-she atau bermarga Oei (jadi satu she dengan, misalnya, Oei Tjeng Hien alias Haji Abdul Karim, tokoh PITI itu).

Cerita mengenai pasukan Cina yang bersama-sama Raden Wijaya mengalahkan pamannya Jayakatwang alias Jayakatong bin Narasinga, yang membunuh mertuanya Kertanegara, Gus Dur pun berbeda. Bukan Kubilai Khan dan pasukannya yang menyerang Jayakatwang dibantu Raden Wijaya, melainkan Raden Wijaya-lah yang dibantu pasukan Cina di bawah perwira-perwira angkatan laut beragama Islam (sebagaimana LaksamanaMa Cheng Ho / Ma Zenghe, pendiri Singapura). Pendiri ini pun masih harus ditambah dengan perbedaan yang lain, yaitu tentang motivasi penyerangan: balas dendam, perluasan kekuasaan, soal agama, atau yang lain. Cerita-cerita sejarah masa lalu semacam itu masih banyak lagi dilihat dan diceritakan Gus Dur – yang tampaknya juga membaca rujukan-rujukan, baik yang ‘baku’ maupun tidak, seperti Kidung Pararapen, Negara Kertagama, Serat Centhini, Serat Cebolek, Babad Tanah Jawi, Babad Diponegoro, Kidung Kebo, Pakem Kajen, dsb. Di samping pendapat ahli-ahli sejarah semacam Dr Taufik Abdullah, Yan Romien (Belanda), Charles Issawi (Libanon), Mohamad Yamin, Kuntowijoyo, hingga ahli purbakala, R.Boechori – tentu saja dengan versinya sendiri. Ada cerita tentang asal-usul kedatangan orang Arab dan Cina ke Indonesia, tentang Pangeran Diponegoro, tentang Kerajaan Banten, tentang penyerangan Sultan Agung ke Batavia, dan masih banyak lagi. tapi yang lebih menarik, disamping melakukan penafsiran-penafsiran, Gus Dur hampir selalu bisa mengaitkan cerita-cerita sejarah lama itu dengan kehidupan masa kini, seperti mengaitkan kisah Perang Bubat di zaman Hayam Wuruk dengan perkembangan PKB (yang dipimpinnya), mengaitkan pemerintahan Mesir Kuno zaman Fir’aun dengan kejadian di pemerintahan Jepang di bawah PM Koizumi dan soal otonomi daerah, mengaitkan kisah Jaka Tingkir dengan Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM/NGO), dsb.

Menurut maraji’ pesantren, mempelajari sejarah antara lain agar orang dapat i’tha-u kulli dzi haqqin haqqahu, memberikan hak kepada pemiliknya, dengan kata lain embenarkan yang benar, memuji yang patut dipujidan menyalahkan yang salah, mengecam yang patut dikecam untuk ekmudian dijadikan pelajaran bagi memperbaiki sikap, dan amal. Agaknya, sehubungan dengan itu, Gus Dur berusaha meluruskan dengan menawarkan kaca mata baru untuk melihat sejarah atau sekedar menyarankan agar, dalam melihat sejarah, kita tidak a priori terhadap salah satu tafsiran tanpa melakukan perbandingan, dengan, antara lain dia sendiri melemparkan alternatif-alternatif tafsiran atas beberapa kejadian sejarah. Dalam hal ini Gus Dur sering menggunakan sumber cerita lisan atau tutur. Gus Dur bahkan menganggap perlu adanya rekonstruksi kesejarahan yag konkret atas dasar cerita-cerita yang bercampur antara cerita fiktif dan informasi aktual, khususnya bagi yang tak ada sumber tertulisnya. Tentu saja dalam melihat sejarah masa lalu, pesan untuk memetik pelajaran takpernah dilupakan oleh Gus Dur. Pelajaran-pelajaran yang dipesankannya untuk kita petikjuga yang disarankan di bagian-bagian lain tulisannya yang lain pun tidak jauh berbeda dari yang selama ini diserukannya, seperti bersikap objektif, bersikap tawazun, seimbang, menjunjung tinggi kejujuran, tidak memandang sesuatu hanya dari satu sisi, tidak menggeneralisir, menghormati perbedaan, menghargai perempuan, dst.

Pendek kata, pelajaran-pelajaran yang penting bagi mewujudkan kehidupan berdemokrasi khusus kepada  para penulis sejarah, Gus Dur menekankan perlunya melengkapi smber-sumber mereka dengan cerita-cerita lisan, di samping sumber-sumber tertulis, untuk mana diperlukan kepekaan menangkap bahasa tutur dan kemampuan menguji kebenarannya; melakukan penafsiran secara tuntas dan tidak melakukan penafsiran tunggal; serta mampu memisahkan fakta sejarah dari mistifikasi yang memang tak terhindarkan dalam sejarah panjang setiap bangsa. Yang menarik, Gus Dur juga mengingatkan pentingnya faktor kredibilitas dan kejujuran sejarawan dalam kehidupannya sehari-hari agar tafsiran dan spekulasinya dipercaya. “Dalam hal ini,” tegasnya, sejarawan yang secara resmi menjadi anggotapartai politik, apalagi pengurusnya, sebaiknya tidak melakukan spekulasi apa pun, karena bagaimana pun juga, kredibilitas semua partai di negeri ini belumlah tinggi dan bahkan sering tidak dipercaya orang”.

Di sini kita berpeluang untuk lebih mengenal pandangan-pandangan dan sikap Gus Dur mengenai banyak hal, termasuk harapan-harapannya, baik bagi kehidupan dunia maupun terutama bagi bangsa dan negaranya sendiri. Seperti barang kali sudah kita ketahui, Gus Dur begitu konsisten memegangi prinsip-prinsip yang diyakini kebenarannya, seperti demokrasi, penegakan hukum, keberpihakan kepada rakyat, kejujuran dan keterbukaan, menjaga solidaritas bangsa, menghargai perbedaan, dsb. Dalam tulisan-tulisan di buku ini pun kita dapat membaca penegasannya atas itu semua.

Dan Gus Dur bukanlah Gus Dur bila dalam berbicara tidak menyelipkan kritik. Maka kita tak heran bila di sana-sini kita temukan kritik-kritiknya yang tajam yagumumnya juga tidak melenceng dari prinsip-prinsip dasar yang diyakininya.  Misalnya, dia dengan tajam terus mengkritik pemerintah, mengkritik politisi yang hipokrit dan mementingkan kepentingan sendiri atau kelompoknya, mengkritik pejabat-pejabat korup, mengkritik sikap keberagamaan yang terlalu formalitas, dan sudah barang pasti mengkritik MPR/DPR yang dianggapnya melanggar UUD 1945 dengan menyelenggarakan SI untuk melengserkannya kemarin. Melihat kritikan-kritikannya yang begitu tajam terhadap berbagai pihak dan hal, mungkin ada yang mengira Gus Dur mulai pesimis, tapi ternyata tidak. Gus Dur ternyata tidak pernah kehilangan optimismenya, satu dan lain hal karena dia begitu teguh memegang adagium kaidah fiqh yang berbunyi: maa laa yudraku kulluh la yutraku julluh (apa yang tak dapat dicapai seluruhnya, jangan ditinggal yang terpentingnya). Dengan pedoman ini, Gus Dur seperti tidak pernah kehilangan harapan. Bagaimana pun buruknya keadaan, toh tetap masih ada yang terpenting yang bisa kita lakukan untuk memperbaikinya. Justru karena inilah, saya kira, Gus Dur melancarkan kritikan-kritikannya.

Wa ba’du, ketika membaca kolom-kolom Gus Dur, entah mengapa, saya jadi teringat pertemuan para ‘Kiai Langitan’, ketika ‘fatwa’ mereka ditunggu-tunggu waktu itu, dan beberapa kali bertemu dengan mereka yang ngotot hendakmencalonkan Gus Dur sebagai presiden. Pada awalnya, para kiai itu memutuskan dan sudah disepakati draftnya yang antara lain berbunyi “para kiai, pada umumnya warga NU, menghendaki agar Gus Dur tetap menjadi ‘kiai bangsa’ (saja)”, dan kemudian – setelah Gus Dur bersikeras menuruti permintaan mereka yang mendorongnya untuk bersedia  dicalonkan sebagai presiden – draft ini diubah menjadi: “meskipun para kiai dan umumnya warga NU menghendaki Gus Dur tetap menjadi’kiai bangsa’, apabila menurut ijtihad Gus Dur sendiri, ia bersedia dicalonkan sebagai presiden, para kiai dan umumnya warga NU, tidak menghalang-halangi.”

Tapi, baiklah Anda baca sendiri saja. Mungkin Anda akan mendapatkan yang lain dan berpendapat lain. Selamat membaca!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s