Ranah Minang

Sampai umur rada tua gini saya masih tidak tahu arti kata minangkabau. Palingan cuma nebak-nebak saja, mungkin ada hubungannya sama kerbau, lha itu model atap rumahnya kayak sungu (tanduk) kebo.

Eh tapi ternyata gak gitu, baru sedikit faham setelah menghayati hidup beberapa hari di ranah minang. Ceritanya gini, waktu itu saya mau ke Padang, urusan mencari sesuap nasi dan segenggam berlian (hehehe…). Karena saya PNS(=Penggaweyane Neng Swasta) maka saya ngrogoh ATM sendiri buat ke sana. Habis subuh, dianter masku dan istrinya dan ketiga anaknya yg masih kecil, kita ke bandara. Para keponakan itu sih sebenernya masih pada tidur, tapi dibangunin mau diajak nganter oomnya. Yang paling kecil yang belum genap setahun umurnya digendong ibunya, trus dua kakaknya disuruh bawa bantal pindah tidur ke mobil. Duuh…para keponakan tercinta….

Eh ternyata pemandengan di perjalanan Jkt-Pdg bagus juga. Tampak pulau-pulau kecil dengan perahu nelayan, wow…. gak lama kemudian landing. Bandara minangkabau gak besar, yah….kayak di Jogja lah. Dari bandara naik bis ke kota Padang. Saya turun di agen tranex, beli tiket ke Bukittinggi, dapat tiket untuk keberangkatan no.13. Wah masih lama, cari makan dulu. Ternyata susah deh cari makanan Jawa, apalagi vegetarian.

Nunggu bis rada bingung juga karena tukang agennya ngomong pakai bhs minang, duo bale…tigo bale….wah gak ngerti saya. Setelah berkali-kali tanya dan ganti-ganti orang saya baru tahu kalau saya harus naik yang tigo bale. Ooo…ternyata tigo bale itu tiga belas, kirain nama tempat, hehehe….. Pemandengan di perjalanan ke Bukittinggi bagus juga lho. Sampai di Bukittinggi trus cari hotel. Trus besoknya cari rumah kontrakan untuk sebulan. Dapet gak jauh dari jam gadang. Weh…murah, lebih murah daripada tidur semalem di hotel.

Kalau mau makan kita pergi cari kedai nasi, tapi lagi-lagi yang ada masakan Padang. Kita keliling kota survey, weh…ada lontong pical, ada ketupek gulai paku (waduh disuruh makan paku?). Tapi biasanya kita makan di kedai nasi, menu saya nasi plus daun singkong plus beregede plus sambel. Beberapa hari menunya itu-itu saja monoton, akhirnya pesen ke pemilik kedai minta dibuatin sayur dan telur dadar buat nanti-nanti. Untungnya ibu itu mau, jadi bisa ganti-ganti menu. Meski rasanya gak kayak masakan Jawa asli, tapi lumayanlah. Kalau saya lihat orang sana kok gak bosan dengan menu yang sama tiap hari, semuanya pedas dan berminyak lagi….

Besoknya keliling kota berburu makanan Jawa. Di salah satu sudut kota kita nemu makanan Jawa, yang masak orang Jawa, mereka jualan lesehan tiap malam dengan menu lalapan, ayam goreng, tahu, tempe, lele. Sebagai vegan temtu saja saya milih menu lalapan tahu tempe.

Minggu pagi kita jalan-jalan di Bukittinggi. Kita pergi ke jam gadang, kebetulan gak jauh dari rumah kontrakan jadi walking on foot saja. Jam Gadang katanya dibuat pada jaman penjajahan Belanda, satu setengah abad yang lalu. Katanya jam gadang artinya jam gede. Memang gede sih, mungkin dulu dibikin untuk nandingin jam gede di London – big ben – yg sudah lebih dulu kondang itu. Tapi jam gadang masih kalah gadang ketimbang big ben. Kalau angka-angkanya pakai angka romawi mirip di big ben, angka empatnya pakai IIII bukan pakai IV. Jam gadang akan bunyi teng…teng….teng….tiap jam sesuai jamnya, kalau jam 3 ya bunyi teng..teng..teng tiga kali, dst. Tiap setengahan jam bunyi teng satu kali, jadi klo jam 3.30 akan bunyi teng satu kali begitu juga jam 4.30, dst. Kalau big ben jadi penanda waktu standard international (UTC), tapi kalau jam gadang sayangnya jamnya gak tepat, kelebihan 10 menit. Ah, mungkin ini lantaran kita kondang bangsa yg jam karet, gak pernah on time, jadi jamnya ya dicepetin 10 menit biar anak-anak sekolahan gak pada telat berangkatnya, hehehe…….

Di Bukittinggi jam gadang jadi point of interest, kayak monas lah. Tiap hari ada saja orang yang piknik ke sana. Kalau hari kerja yang piknik sedikit, kalau pagi ada beberapa orang, kalau sore lebih banyak. Apalagi kalau hari libur bakalan banyak. Di sana saya lihat ada 3 orang tukang foto yang tampak nawarin jasa foto instan. Tapi kayaknya gak begitu laku, sekarang kan sudah banyak yang punya kamera digital poket or kamera di ponsel.

*****

Bhs minang mirip-mirip banget sama bhs melayu, tapi aksennya beda-beda dikit sama Malaysia.  Di kedai nasi tempat kita biasa makan, kalau emak dan anak pemilik kedai itu bercakap-cakap, kita kadang bengong gak ngerti apa yang diomongin, tapi rasanya rada mirip kayak nonton tv Malaysia.

Beberapa kata rada mirip sama bhs jawa, misalnya “tigo” yang di Jawa juga berarti  three.  Apa ada hubungannya sama Jawa ya?  Kayaknya enggak sih, tapi menurut cerita, pada jaman kejayaan kerajaan hindu Jawa, ada salah seorang anak raja Jawa yang dikirim ke minang, lalu jadi raja di minang dan beristri orang minang.  Nah, sampai sekarang orang minang akan bilang kalau suku minang sama suku Jawa masih ada hubungan saudara.

Tapi menurut perasaanku karakter minang dengan karakter Jawa  gak sama.  Sudah gitu kalau di Jawa masyarakatnya nganut patrilineal, tapi di minang sebaliknya nganut matrilineal.  Jadi, kalau mbagi warisan, di minang anak perempuan dapat bagian lebih gede ketimbang laki, ini kebalikan sama jawa yang nganut: “sepikul segendongan” yang maksudnya anak laki dapat bagian warisan dua kali bagian anak perempuan (sepikul itu kan dua keranjang, yang mikul laki, segendongan itu satu gendongan cuma satu keranjang yang nggendong perempuan, itulah bagian masing-masing). Cara pembagian warisan di jawa lebih sesuai dengan cara Islam. (aku blm tahu apakah di jawa aslinya sejak dulu sdh begitu ataukah sdh ngadopsi cara2 islam lewat ajaran para wali penyebar agama islam).  Jadi, menurut Sutan Mudo yang orang minang, kalau laki jawa kawin sama perempuan minang, untung gede lantaran dari kedua pihak dapat bagian warisan gede.  Sebaliknya, klo laki minang kawin sama perempuan jawa, waduh…cilaka, karena dari kedua pihak cuma dapat bagin warisan kecil.  Hehehe….sori, becanda lho, jangan dimasukin ati.

Tapi, meski matrilineal, anehnya budaya minang ngaku sudah ngadopsi syariat Islam sebagai dasar filosofis dan praktek adat-istiadatnya. (pdhal islam nganut patrilineal, nasab ngikut garis ayah).  Di minang ada adagium: “adat basandi sara, sara basandi kitabullah” yang diartiken adat berdasarken syara (syariat islam), syara berdasarken al qur’an.  Ini dipertegas lagi dengan: “sara mangato, adaik mamakai” artinya syariat Islam dipakai dalam adat minang. Bahkan nama “minangkabau” katanya berasal dari kata arab: “al mu’minan khanabawiyah” yang diartiken pemerintahan cara nabi.  Menurut sejarah, kaum paderi yang nganut ajaran wahabi dulu berjaya di sana dan nerapken syariat Islam secara formal.  Wkt itu, janganken berkhalwat (pacaran or ber-dua2an laki-perempuan dewasa yg bkn muhrim), shalat aja diawasi ketat, laskar berkuda paderi patroli kluar-masuk jorong dan nagari, mereka yang masih klayaban (kluyuran) di jalanan dan pasar saat azan dikumandangken, akan dihalau ke surau.  Pada masa Muhammad Alif jadi sultan di Pagaruyung (sekitar thn 1421— coba cek di catetan sejarah, mgkn aku kliru), katanya mereka juga ngirim ulama dan wali utk ngembangken islam ke Tapanuli, Sulawesi, Gowa, Kalimantan, Malaka, Jawa (coba dicek lg di catetan sejarah).  Bekas kesultanan Pagaruyung masih ada di kabupaten Tanah Datar, tapi waktu kita ke sana kemarin, istananya sudah habis kebakaran, sekarang lagi dibangun lagi.

Meski syariat Islam secara formal dipakai dalam adat minang, tapi budaya matrilineal masih dipakai, beda sama budaya Islam yang patrilineal. Trus, banyak juga yang pelihara anjing.  Anjing-anjing ini dibiarken keluar masuk rumah, main sama pemiliknya.  Kalau umumnya orang Islam Jawa nganggep anjing najis berat (mugholadhoh), sehingga kalau kena najisnya anjing lantas dicuci sampai tujuh kali ulangan nyucinya, salah satunya dicuci dengan tanah or debu or abu yang suci temtu saja (demikian kata guru ngaji di kampung dulu).  Tapi di minang apa juga diajari ngaji fiqih begitu, aku belum tahu, belum nanya sih….  cuma yang kelihatan itu anak-anak kecil siang main sama anjing, sore ngaji di surau.

Eh, di ranah minang ini, ternyata perempuan nggembala sapi or kambing itu pemandengan biasa,  malah jarang tampak laki yang nggembala.  Biasanya, klo laki-laki dewasa malah “nggembala anjing”, biasa kita ketemu di jalan mereka berjalan di belakang beberapa ekor anjing yang mereka pegangi talinya.  Katanya, harga anjing yang bagus cukup mahal di sana.  Ada pasar anjing juga lho…

Seorang sopir truk crita, katanya dia pernah diajak “berburu” anjing di Jakarta.  Mereka keliling rumah-rumah beli anjing or anakan anjing banyak-banyak dengan harga murah, lalu diangkut pakai truk ke minang. Sampe tujuan, anjing satu truk itu dibongkar.  (krn perjlnn bbrp hr dr jkt dan gak dikasi mkn, kdg ada yg mati or sdh lemes).  Lalu dipilih anjing-anjing yang bagus dipisah sama yang jelek.  Yang bagus dijual dengan harga mahal, kalau yang afkir ya lebih murah lah, tapi tetep dibilang anjing dari Jakarta, jd nilainya lebih mahal ketimbang anjing kelahiran lokal.  Katanya lagi, dari anjing satu truk itu bisa untung bersih 5 sampai 10 juta, si sopir ini kadang dikasih 1—2 juta.  Wah…business yang menggiurken juga ya ?

Sebagai daerah yang berbukit-bukit (kan emang di pegunungan bukit barisan, he3x……….), ranah minang sebenernya punya pemandengan alam yang memesona.  Kalau mau lihat pantai, kita bisa pergi ke pesisir. Kalau mau lihat ngarai, kita bisa pergi ke daerah pegunungan. Mau lihat danau juga bisa.  Mau lihat sungai yang airnya masih bening, bisa. (klo di jkt sih enggak ada pemandengan kyk gitu, apalagi sungai2 di jkt sdh mirip peceren raksasa, hiii….. baunya…minta ampun deh).

Jalur Padang—Bukittinggi diapit dua gunung: gn.merapi dan gn.singgalang.  Gak jauh dari gn.merapi, antara Padang Panjang dan Solok, ada danau besar namanya danau Singkarak.  Airnya bersih, dengan ombak-ombak kecil.  Pemandengannya indah. Kita bisa sewa perahu kalau mau “jalan2” di danau.  Kalau lapar gak usah kuatir, banyak rumah makan padang.  Tapi sayangnya, hampir di sepanjang tepi utara danau berdiri toko dan rumah makan, dan saluran pembuangan dari kamar mandi dan wastafel bermuara di danau.  Bahkan yang buang sampah di pinggir danau juga ada lho.

Danau Singkarak banyak ikannya, jadi banyak nelayan yang nangkep ikan di danau itu.  Ada juga yang ngumpulin kerang. Sepanjang tepi danau Singkarak sebelah utara ada jalan raya dan rel kereta api dari Padang Panjang ke Solok.  Tapi sayang rel kereta apinya sudah enggak difungsiken lagi, entah kenapa.

Kalau di deket gn.singgalang ada danau Maninjau. Danaunya besar juga.  Trus kalau dari Solok ke timur ada lagi danau di atas dan danau di bawah, kedua danau itu gak sebesar danau Maninjau dan danau Singkarak.

Kalau kita dalam perjalanan antara Bukittinggi dan Tanah Datar kebetulan kehabisan bensin, kita bisa beli di pertamini.  Mungkin ini plesetan dari pertamina tapi mini, jadi pertamini.  Kios pertamini sebenernya sih penjual bensin eceran, tapi untuk menakar mereka pakai bejana ukur berkapasitas 5 liter dan ada garis-garis ukurnya.

Mula-mula bensin di tangki penampungan dipompa pakai pompa tangan yang engkolnya diputar, lalu bensin masuk ke bejana ukur sampai volume yang diinginkan atau sampai penuh 5 liter. Trus dari situ bensin dialirkan melalui kran trus masuk  slang trus ke tangki kendaraan kita, mirip di pompa bensin.

Orang minang ternyata suka matematika. Saking sukanya, mereka namai tempat pakai angka, misalnya ada koto I, koto II, dst…….koto VIII, koto IX….sampai lima puluh, sehingga ada kabupaten 50 kota, bayangken betapa besar kabupaten itu…

Ada juga yang namai tempat pakai perkalian, misalnya  4X6 koto 11 lingkungan.

Orang minang juga suka mlesetin kata-kata, misalnya Payakumbuh mereka bilang Payakumbuah, Padang Ganting jadi Padang Gantiang, tujuh jadi tujuah, tiga puluh jadi tigo puluah, mirip orang osing di Banyuwangi yang juga suka mlesetin kata-kata misalnya banyuwangi jadi banyuwangai,  gedigi (kyk gini) jadi gedigai, gedigu (kyk gitu) jadi gedigau, iki (ini) jadi ikai.

Beberapa hal mereka namai tempat tapi mbingungi, misalnya kabupaten Tanah Datar kok ada di pegunungan, apanya yang datar?

4X6 koto 11 lingkungan ini maksudnya bagaimana?

Lha kalau yang pakai nama padang itu banyak, ada Padang Panjang, Padang Ganting, Padang Luar, Padang Lawas, Padang Pariaman, lha katanya padang itu artinya pedang, jadi padang panjang artinya pedang panjang (jd inget lagu kebanggaan waktu kecil: aku seorang kapiten…mempunyai pedang panjang….)

1 Juni 2008

Related topic:

orang minang di istana majapahit

3 Responses to Ranah Minang

  1. Eko says:

    Diminang, setahu saya pembagian harta tetap berdasarkan syariat islam.. Hanya saja untuk penyimpanan selama harta tersebut belum dijual diamanatkan ke bundo kanduang.. Harap koreksi jika saya salah..

    Untuk pemelihara anjing, dari dahulu, orang minang banyak yang suka pergi berburu babi dihutan. Untuk menjaga agar ladang tidak terkalu banyak yang dirusak babi. Untuk zaman selarang hanya untuk kesenangan berburu babi..

  2. Ratna Sari says:

    hmmmm tapi perempuan yg mengembala kerbau atau kambing sekarang sudah jarang, paling yg di minta untuk mengembala anak-anak mereka saja.

  3. minangkabau is the best=pendapat saya…!!!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s