Penjelajah Bahari

Resensi Buku

Judul: Penjelajah Bahari; Pengaruh Peradaban Nusantara di Afrika
Penulis : Robert Dick-Read
ISBN: 978-979-433-506-2

Kita mengenal Columbus sebagai penjelajah bahari dari Spanyol abad XV yang “menemukan” dunia baru, daratan Amerika. Sebelum Columbus, kita mengenal Cheng Ho, penjelajah bahari dari Cina yang 5 kali mampir di Jawa dari 7 kali pelayarannya hingga mencapai pantai timur Afrika. Nama-nama yang juga terkenal sebagai penjelajah bahari diantaranya Bartholomeus Diaz, Marco Polo, dan Vasco da Gama.

Sebagai negeri kepulauan, tentu masuk akal jika penduduk Nusantara mustinya juga memiliki pelaut handal. Buku ini bercerita tentang pelaut-pelaut Indonesia yang datang ke Afrika pada masa lampau, jauh sebelum bangsa Eropa mengenal Afrika selain Gurun Saharanya, dan jauh sebelum bangsa Arab dan Shirazi mengarungi lautan dengan perahu dhow mereka untuk menemukan kota-kota eksotik seperti Kilwa, Lamu, dan Zanzibar. Kita tidak tahu pasti siapa orang-orang Indonesia ini, dari mana mereka datang, bagaimana dan mengapa mereka bisa sampai ke Afrika.

Penulis buku ini meneliti mengenai sisa-sisa peninggalan mereka di Afrika. Penelitiannya berawal ketika Read mengikuti presentasi Profesor Roland Oliver dan John Fage dalam seminar “Indonesia dan Afrika” di School of Oriental and African Studies. Tetapi awal ketertarikannya pada tema tersebut bermula pada 1957 ketika ia berada di Mozambik, dan untuk pertama kalinya mendengar bagaimana masyarakat Madagaskar, yang berbicara dalam bahasa asing, secara rutin melakukan perjalanan menuju Afrika dengan menggunakan kano-kano besar bercadik, mirip seperti kapal bercadik Indonesia. Dan rasa penasaran itu bertambah setelah mengetahui orang-orang itu menggunakan bahasa yang lebih mendekati bahasa Austronesia daripada bahasa Afrika.

Dari situ muncul hipotesis: bahwa antara abad ke-5 dan ke-7, kapal-kapal Nusantara mendominasi pelayaran dagang di Asia. Bahwa pada abad-abad itu perdagangan bangsa Cina banyak bergantung pada jasa para pelaut Nusantara. Bahwa sebagian teknologi kapal jung dipelajari bangsa Cina dari pelaut-pelaut Nusantara, bukan sebaliknya. Bahwa emas yang berlimpah di Sumatera yg dijuluki Swarnadwipa (pulau emas) berasal dari Zimbabwe. Bahwa tambang-tambang emas kuno di Zimbabwe dibangun oleh para perantau Nusantara.
Bagian pertama buku ini mendeskripsikan mengenai apa yang terjadi di pulau-pulau di kawasan Asia Tenggara dan wilayah sebelah utara Lautan Hindia dari masa-masa awal hingga akhir milenium pertama era Masehi.

Dimulai dengan pengenalan singkat sejarah maritim di pulau-pulau tersebut, bagaimana masyarakat pastilah memiliki semacam perahu untuk menyeberangi 70 km laut lepas untuk mencapai Australia pada sekitar 50.000 hingga 60.000 tahun yang lalu, suatu kebutuhan mutlak akan adanya budaya berperahu untuk bertahan hidup di wilayah yang terdiri dari 30.000 lebih pulau. Bagaimana sesudah itu mereka menemukan hampir semua pulau tak dikenal di Lautan Pasifik, dan dugaan bahwa mereka juga berlayar ke barat menuju Lautan Hindia sebelum wilayah itu dijelajahi oleh para pelaut Mesir, India, Yunani, dan Roma.

Dalam bagian ini juga disinggung hubungan perniagaan antara Roma dan India serta Timur Jauh, dan misteri yang menyelimuti kayu manis dan cassia dari Indonesia yang tidak perlu singgah di India untuk menemukan jalan menuju Roma melalui Horn of Africa. Dan ini menjadi katalisator terbentuknya masyarakat Indonesia di pantai Afrika. Cina jelas memiliki peranan penting dalam perniagaan di kawasan Mediterania, tetapi yang mengejutkan, tampaknya Cina lebih banyak mempercayakan pengiriman lewat laut kepada pelaut Indonesia hingga periode milenium pertama era Masehi. Bangsa Persia dan Arab tidak ketinggalan dalam bazar Samudera Hindia yang menguntungkan itu, tetapi mereka bisa dikatakan pendatang kesiangan dalam percaturan pelayaran jarak jauh tersebut. Terbukanya perniagaan lewat laut itu berdampak pada bermunculannya kerajaan-kerajaan berbasis perniagaan seperti Funan, Kan-to-li, Ho-ling, dan tak terkecuali kerajaan terkuat masa itu, Sriwijaya, dengan angkatan laut pertama yang diorganisasikan dengan baik di wilayah itu.

Bagian pertama buku ini diakhiri dengan perjalanan melalui hutan-hutan bakau dan pulau-pulau kecil di perairan Indonesia untuk mencari jati diri “para pengembara laut” yang menjadi tulang punggung armada militer kerajaan Sriwijaya, yang mungkin juga telah membawa para pelaut Indonesia ke Afrika dan Madagaskar. Maka tersebutlah suku-suku seperti Bajo, Bugis, Mandar, dan Makassar sebagai pelaut-pelaut ulung yang diduga paling mungkin terlibat dalam pelayaran ke Madagaskar dan pantai Afrika.

Bagian kedua buku ini beralih ke Afrika. Di benua itu ada kelompok masyarakat yang disebut “Zanj” yangmendominasi pantai timur hampir sepanjang milenium pertama Masehi. Siapakah “Zanj” yang misterius itu, yang namanya merupakan asal dari nama bangsa Azania, Zanzibar, dan Tanzania itu? Banyak petunjutk, (hubungan mereka dengan Zabag atau Zanaj yang berasal dari Jawa atau Sumatera), mengarah pada hubungan erat dengan Indonesia, dan mungkin Zanj adalah ras Afro-Indonesia. Penting diketahui bahwa era pertambangan emas Zimbabwe pada masa lampau berada pada zaman yang sama dengan masa kejayaan Sriwijaya di Sumatra (Swarnadwipa=Pulau Emas) yang secara politis membutuhkan emas dalam jumlah besar. Dalam bagian ini juga ditelaah mengenai siapakah bangsa Malagasi. Hasil investigasi yang dilakukan mengarah pada asal-usul dari Sulawesi barat daya.

Dalam bidang musik, diduga kuat ada pengaruh Indonesia di Afrika. Alat musik bambu Afrika memiliki kemiripan dengan alat-alat musik Asia Tenggara, seperti xylophone yang terdapat di relief candi Borobudur. Di bidang pertanian, pisang raja dan ubi jalar diduga diperkenalkan orang-orang Indonesia ke Afrika. Demikian juga tanaman jagung yang berasal dari Amerika Tengah, mula-mula dibawa pulang oleh penjelajah Asia, baru kemudian dikenalkan oleh pelaut Indonesia ke Afrika. Bahkan pelaut Indonesia diduga telah mengelilingi Semenanjung Harapan dan berlayar ke Afrika Barat. Setelah perjalanan yang penuh keberanian dari replika “perahu Borobudur” pada 2004, tak ada lagi keraguan bahwa mereka mampu melakukannya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s